Selasa, 27 Februari 2024

Final Milik Tuan Rumah

Berita Terkait

Ilustrasi sepak bola (Istimewa)

batampos – Qatar di Piala Asia dan Pantai Gading dalam Piala Afrika mampu menyelamatkan wajah tuan rumah. Mereka sukses melaju ke final setelah mengalahkan lawan masing-masing, kemarin (8/2).

Dua kali lolos ke final Piala Asia, dua kali pula ada faktor Spanyol sebagai faktor kunci Qatar. Jika pada final 2019 Felix Sanchez Bas yang menakhodai Qatar, di final tahun ini Bartolome Marquez Lopez alias Tintin sebagai juru taktik The Maroons, julukan Qatar.

Seperti Sanchez Bas, Tintin datang dari Aspire Academy yang merupakan cikal bakal kekuatan Qatar sedekade terakhir. Tintin pun mampu meneruskan tongkat estafet kepelatihan kompatriotnya.

Meski tidak secara langsung menggantikan Sanchez, Tintin segera mengembalikan performa Hassan Al-Haydos dkk yang goyah di tangan duo pelatih asal Portugal, masing-masing Bruno Pinheiro (2022–2023) dan Carlos Queiroz (2023).

Satu hal yang berbeda antara Tintin dari Sanchez Bas adalah skema main. Tintin lebih fleksibel ketimbang Sanchez Bas yang lebih sering me-ngusung formasi 5-3-2 di Piala Asia 2019 dan Piala Dunia 2022.

“Aku mencoba mengimplementasikan ide dan filosofiku. Aku di sini bukan untuk mengubah segalanya,” ucap Tintin seperti dilansir Mundo Deportivo.

Baca Juga: Digelar 3 Negara, New York Jadi Tuan Rumah Final Piala Dunia FIFA 2026

Sejak fase grup, Tintin menggunakan enam formasi berbeda dalam enam laga.
The Maroons pun mencatatkan 100 persen kemenangan dengan menciptakan 14 gol dan kebobolan 6 gol. Tidak lebih superior ketimbang Piala Asia 2019 ketika The Maroons hanya kebobolan satu gol sepanjang turnamen!

“Setiap pelatih punya gaya sendiri-sendiri dan yang aku lakukan hanya mencoba memperkenalkan ideku kepada pemain. Aku sangat menghormati semuanya (pelatih) yang datang sebelum aku,” tutur Tintin yang mantan entrenador RCD Espanyol.

Dari 28 pemain di skuad Qatar saat ini, 17 di antaranya atau 61 persen lebih merupakan bagian dari skuad Qatar dalam Piala Dunia 2022 asuhan Sanchez Bas. Bahkan, rata-rata sudah masuk skuad juara Piala Asia 2019. Salah satunya striker Akram Afif.

Dilansir Al Koora, top scorer Qatar pada Piala Asia kali ini (5 gol) tersebut menyebut bahwa skuad yang ada saat ini telah menyatu bak keluarga. Itulah yang memberikan kesolidan dalam penampilan The Maroons. ’’Selayaknya keluarga, kami mendukung satu sama lain,’’ kata striker yang sudah mengoleksi 30 gol dari 104 caps tersebut.

Sekarang Tintin dan Afif tinggal berharap kesempurnaan Qatar sepanjang Piala Asia berakhir de-ngan gembira dalam final kontra Jordania di Stadion Lusail besok (10/2) malam.

Baca Juga: Manchester United Menang atas The Hammers di Old Trafford

Di lain pihak, Pantai Gading nyaris menanggung malu di Piala Afrika dengan menjadi segelintir tuan rumah yang sudah harus gagal sejak fase grup. Bagaimana tidak. Dari tiga matchday, Les Elephants keok dua kali. Kalah 0-4 oleh Guinea Khatulistiwa pada matchday pemungkas (23/1) malah membuat entraineur Jean-Louis Gasset kehilangan jabatannya. Tetapi, dua pekan berselang, nasib mereka berbalik 180 derajat dengan dipastikan jadi finalis.

Itu seiring kemenangan 1-0 atas Republik Demokratik Kongo pada semifinal di Stadion Alassane Ouat-tara Stadium, Abidjan, Kamis (8/2). Dalam final di venue yang sama pada Senin (12/2) dini hari, Franck Kessie dkk bersua Nigeria yang kemarin mengalahkan Afrika Selatan via adu penalti 4-2.

Final tersebut merupakan kali kelima dalam sejarah Pantai Gading setelah 1992, 2006, 2012, dan 2015. Mereka berhasil menjuarai dua di antaranya (1992 dan 2015).

”Ini (lolos final, red) seperti mimpi. Apalagi jika mengingat dua pekan lalu (pasca kekalahan oleh Guinea Khatulistiwa, red). Kala itu kami nyaris putus asa tampil di depan publik sendiri,” tutur karteker pelatih Pantai Gading Emerse Fae kepada Eurosport.

Pantai Gading merupakan tuan rumah pertama sejak Mesir pada 2006 yang sukses melangkah ke final. Dalam sejarah Piala Afrika, ada 13 edisi yang salah satu finalisnya merupakan tim tuan rumah dan 10 di antaranya juara. Statistik yang bisa menambah motivasi Les Elephants.

”Kami tidak pernah berhenti percaya terhadap kemampuan tim ini. Bahkan ketika peluangmu sangat kecil atau antara 5-10 persen. Hal itulah yang membuat sepak bola sangat indah,” beber kapten tim sekaligus gelandang Kessie seperti dilansir ESPN. (*)

 

Sumber: JP Group

Update