Rabu, 28 September 2022

Tim Indonesia Awali Perjalanan dengan Raih 2 Medali di Islamic Solidarity Games

Berita Terkait

Atlet tolak peluru Indonesia Eki Febri Ekawati (kiri) meraih perunggu pada ISG 2021. (NOC Indonesia)

batampos – Tim Indonesia mengawali perjalanan di Islamic Solidarity Games (ISG) 2021 Konya, Turki dengan solid. Menjelang opening ceremony, Merah Putih meraih modal positif dengan meraih dua medali. Yakni perak dan perunggu.

Perak dipersembahkan pembalap sepeda Ayustina Priatna. Dia menempati posisi runner-up pada nomor omnium elite putri. Sedangkan perunggu diraih Eki Febri Ekawati yang turun pada tolak peluru putri.

Torehan prestasi yang diukir Eki sekaligus menjadi medali pertama bagi Indonesia di ISG.

Chef de Mission (CdM) Tim Indonesia untuk ISG Rafiq Hakim Radinal mengatakan bangga dengan prestasi Ayustina dan Eki. Dia berharap hasil ini membuat para atlet lain bertambah semangat.

“Saya bangga sekaligus gembira karena tim Indonesia berhasil meraih dua medali, perak dan perunggu sebelum opening ceremony. Semoga ini bisa menjadi pembangkit semangat bagi atlet-atlet lain yang akan tampil di ISG,” kata Rafiq dalam keterangan resmi NOC Indonesia.

Pria yang juga anggota Komite Eksekutif NOC Indonesia itu menambahkan tim Indonesia beranggotakan 40 orang dalam parade defile upacara pembukaan. Tim Indonesia bakal mengenakan baju kontingen benuansa hitam dan merah.

Pembawa bendera, lanjut Rafiq, adalah atlet taekwondo Osanando Naufal Khairudin. Dia akan berjalan berdampingan bersama atlet tolak peluru Eki.

Pemilihan atlet putra dan putri untuk flag carrier ini merupakan ketentuan wajib yang ditetapkan oleh panitia penyelenggara.

“Memang tidak semua atlet hadir di opening ceremony karena kami juga harus mengatur kebugaran mereka, terutama bagi mereka yang bertanding esok harinya. Eki sudah selesai bertanding, sedangkan Osanando baru berlaga 11 Agustus. Jadi, masih bisa beristirahat,” kata Rafiq.

Opening ceremony berlangsung pada 21.30 waktu setempat atau Rabu (10/08) dini hari WIB. Acara ini rencananya akan dihadiri Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Sementara itu, Ayustina atas raihan perak yang didapatkannya. Meski demikian, Ayustina mengaku tak begitu puas. Sebab, sebenarnya, dia mampu tampil pada urutan teratas pada game kedua dan ketiga.

Ayustina meraih perak usai mengumpulkan 115 poin. Dia terpaut 5 poin dari peraih emas yakni pembalap Kazakhtan, Rinata Sultanova. Sultanova mendulang 120 poin. Perunggu diamankan pembalap Malaysia Nur Aisyah Mohamad Zubir dengan raihan 107 poin.

“Medali perak ini ibaratnya perjuangan tumpah darah karena sudah lama saya tak turun di nomor track dan baru mencoba lagi. Ini turnamen ketiga saya di nomor track setelah India dan Kolombia, tetapi ibaratnya di sini saya benar-benar bermain,” kata Ayu.

“Secara strategi, saya tidak begitu maksimal karena negara lain menurunkan dua pembalap, sedangkan saya turun sendiri. Ketika saya tampil bagus di tiga game awal, lawan langsung menandai agar saya ditempel ketat. Dan karena saya turun sendiri, jadi tidak ada yang menjaga saya,” tambahnya.

Meski demikian, Ayu mengatakan mendapat pelajaran berharga dari nomor omnium. Ini menjadi modal positif sebelum tampil di nomor ITT dan road race.

“Sekarang fokus recovery dulu. Alhamdulillah dari NOC Indonesia menyediakan masseur dan pelatih juga bawa protein shake. Insya Allah bisa lebih cepat,” ujar Ayu.

Terpisah, Eki mengaku gembira bisa mempersembahkan medali bagi Indonesia. Eki mengamankan peringkat ketiga di nomor tolak peluru usai membukukan lemparan 14,93 m. Medali emas dan perak diamankan atlet tuan rumah, yaitu Emel Dareli (17,25 m) dan Pinar Akyol (16,87 m).

“Secara persaingan, memang mereka di atas kita karena Dareli ini tampil di Olimpiade. Tapi saya tampil tak ada beban, terpenting bisa mendapat lemparan yang bagus saja,” ucap Eki.

“Saya bangga bisa memberikan medali perunggu karena otot paha dalam kanan saya sempat agak tegang. Beruntung tidak apa-apa hingga akhirnya bisa mendapatkan medali perunggu ini,” tambah Eki. (*)

 

 

 

Reporter: JPGroup

Update