Sabtu, 24 Januari 2026

Fans Real Madrid Mengamuk, Tuding Wasit Berpihak ke Barcelona

Berita Terkait

Pemain Barcelona, Lamine Yamal (kanan), saat dikawal ketat pemain Villarreal. (Instagram/@brfootball)

batampos – Kontroversi perwasitan kembali mewarnai La Liga. Kali ini, sorotan tertuju pada laga Villareal kontra Barcelona di Estadio de la Ceramica.

Pertandingan yang sejatinya berjalan tidak mulus bagi Blaugrana justru berakhir dengan keuntungan besar bagi tim asal Catalunya, apalagi berkat sejumlah keputusan wasit yang dinilai mengundang tanda tanya.

Melansir Defensa Central, Villarreal tampil agresif sejak awal dan bahkan memiliki peluang yang lebih banyak serta lebih berbahaya di babak pertama. Namun, arah pertandingan berubah drastis setelah dua keputusan krusial wasit Alberola Rojas.

Pertama, penalti diberikan untuk Barcelona usai Raphinha terjatuh di kotak terlarang. Tak lama berselang, Villarreal harus bermain dengan 10 orang setelah Renato Veiga diganjar kartu merah akibat tekel terhadap Lamine Yamal.

Di mata banyak pihak, terutama fans Real Madrid, dua keputusan tersebut terasa terlalu menguntungkan Barcelona. Bahkan, muncul anggapan bahwa kartu merah seperti itu “hanya akan keluar jika yang dilanggar adalah pemain Barca”.

Alberola Rojas dinilai “menggelar karpet merah” untuk Barcelona. Keputusan-keputusannya disebut sebagai contoh nyata standar ganda dalam sepak bola Spanyol. Jika situasi serupa terjadi dan melibatkan Real Madrid, banyak yang yakin hasilnya akan berbeda.

Perbandingan pun langsung muncul. Beberapa waktu lalu, Marcao tidak diusir keluar lapangan meski melakukan tekel brutal dengan kedua kaki terhadap Rodrygo. Namun, pelanggaran terhadap Lamine Yamal dianggap tidak bisa ditoleransi dan langsung berbuah kartu merah.

Tekel yang diterima Vinicius Jr. hampir di setiap pertandingan pun sering kali tak berujung kartu merah bagi lawan. Dalam konteks ini, kartu merah untuk Renato Veiga dinilai berlebihan.

Kontaknya minim, hanya sedikit menginjak tumit Yamal karena terlambat datang. Jika insiden seperti ini dianggap kartu merah, maka logikanya, hampir setiap lawan Real Madrid seharusnya bermain dengan 10 orang.

Penalti Jadi Sorotan

Selain kartu merah, penalti untuk Raphinha juga memicu perdebatan. Kontak yang terjadi dinilai ringan dan tak jauh berbeda dengan sejumlah insiden yang dialami Vinicius atau Rodrygo di pertandingan lain yang justru tidak berujung penalti.

Penalti inilah yang membuka keunggulan Barcelona. Keputusan tersebut diambil tanpa intervensi VAR karena dianggap sebagai situasi yang “terbuka untuk interpretasi”.

Namun, di sinilah letak masalahnya. Interpretasi wasit terasa berubah-ubah: satu cara ketika menguntungkan Barcelona, cara lain ketika situasinya melibatkan Real Madrid.

Hal inilah yang lebih dari sekadar benar atau tidaknya penalti dan kartu merah benar-benar memicu kemarahan di Bernabeu. (*)

 

ReporterJP GROUP

Update