Garuda Muda Jadi Skuad ASEAN Termahal Piala Asia U-23

0
230
Pemain Timnas Indonesia Marselino Ferdinan. ANTARA FOTO/Zabur Karuru/hp
Pemain Timnas Indonesia Marselino Ferdinan. ANTARA FOTO/Zabur Karuru/hp

batampos – Persiapan Timnas Indonesia U-23 menghadapi Piala Asia U-23 2024 memasuki babak akhir. Timnas Indonesia U-23 menjadi skuad termahal di antara tim-tim asal ASEAN yang berpartisipasi.

Pada Piala Asia U-23, Timnas Indonesia U-23 sebagai skuad dengan nilai pasar tertinggi di kawasan ASEAN. Dalam turnamen ini, perbedaan nilai pasar tidak sebesar pada turnamen senior sebelumnya. Menegaskan posisi dominan Timnas Indonesia U-23 di kawasan ASEAN.

Nilai pasar Timnas Indonesia U-23 total sebesar 4,48 juta euro atau setara dengan Rp 7,7 miliar. Angka tersebut menjadikan Timnas Indonesia U-23 berada di posisi keenam secara keseluruhan dalam hal nilai pasar di antara semua tim yang berpartisipasi.

Pemain Timnas Indonesia U-23, Rizky Ridho, menjadi pemain termahal dengan nilai 400 ribu euro atau setara dengan Rp 687 juta. Ivar Jenner dan Marselino Ferdinan berbagi tempat sebagai pemain termahal kedua dengan nilai 300 ribu euro atau setara dengan Rp 515 juta.

Sedangkan Ramadhan Sananta, pemain dari Persis Solo, berada di posisi ketiga dengan nilai 275 ribu euro atau setara dengan Rp 472 juta.

Pemain lain seperti Ernando Ari, Pratama Arhan, Fajar Fathurrahman, Adi Satryo, dan Rio Fahmi, memiliki nilai pasar yang sama, yakni 250 ribu euro atau setara dengan Rp 429 juta.

Di kawasan ASEAN, Vietnam, Thailand, dan Malaysia, juga berpartisipasi di Piala Asia U-23. Mereka juga berupaya merebut tiket menuju Olimpiade 2024 Paris. Namun, jika dibandingkan dengan Timnas Indonesia U-23, ketiga tim tersebut memiliki nilai pasar yang jauh lebih rendah.

Vietnam, yang merupakan salah satu pesaing kuat di kawasan ASEAN, memiliki nilai pasar 2,34 juta euro atau setara dengan Rp 4 miliar. Thailand, yang selalu menjadi rival tradisional Timnas Indonesia, memiliki nilai pasar hampir serupa dengan Vietnam, yakni 2,03 juta euro atau setara dengan Rp 3,49 miliar.

Sementara itu, Malaysia, yang sering menjadi lawan yang sulit bagi Timnas Indonesia, memiliki nilai pasar paling rendah di antara ketiga negara tersebut, dengan total 1,98 juta euro atau setara dengan Rp 3,4 miliar.

Meskipun begitu, Malaysia bukan tim yang memiliki nilai pasar paling rendah di Piala Asia U-23. Jordania, salah satu peserta dari luar kawasan ASEAN, justru memiliki nilai pasar yang lebih rendah dari Malaysia, yakni sebesar 1,15 juta euro atau setara dengan Rp 1,9 miliar.

Dengan dominasi nilai pasar Timnas Indonesia U-23 di antara tim-tim asal ASEAN, apakah ini bisa menjadi sinyal bahwa Timnas Indonesia U-23 siap untuk meraih kejayaan di Piala Asia U-23 2024? Semua tentu berharap demikian.

Meskipun nilai pasar bukan satu-satunya indikator keberhasilan tim, keunggulan tersebut bisa menjadi motivasi tambahan bagi para pemain untuk memberikan yang terbaik di lapangan. (*)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini