Jumat, 13 Maret 2026

Menonton F1 GP Singapura dengan Guyuran Hujan

Berita Terkait

Para penonton F1 Singapura memadati tribun setelah hujan deras turun. (singaporegp.sg)

Saya tidak hanya menjadi saksi tangguhnya Sergio Perez saat menaklukkan sirkuit jalanan Singapura pada Minggu (3/9) lalu. Tetapi juga ikut merasakan bagaimana serunya menonton balapan itu sambil hujan-hujanan.

JPGroup, Singapura

AWAN mendung mulai terlihat ketika jarum jam menunjukkan pukul 18.00 waktu Singapura. Meski tanda-tanda hujan akan turun, penggemar Formula 1 itu masih tertib antri masuk venue melalui pintu 3A. Dari jalur pengecekan tas di gerbang yang tidak jauh dari stasiun MRT Raffles City itu, petugas lantas mengecek bawaan dengan teliti.

Ada yang membawa payung maupun jas hujan. Awan gelap membuat mereka membawa perlengkapan untuk berlindung dari hujan. Meski banyak juga yang memilih masuk express lane, jalur cepat karena tidak membawa tas. Setelah scan barcode tiket, mereka bisa langsung menuju venue tanpa ada pemeriksaan berarti lagi.

Dari pintu 3A itu, penggemar bisa mengakses dua lokasi menonton. Yakni Stamford Grandstand, dan Padang Grandstand. Atas undangan Singapore Tourism Board (STB), JawaPos.com bersama empat media online asal Indonesia lainnya mendapat tiket di Padang Grandstand. Tempat duduknya menghadap St. Andrew Roads.

Tempat duduk kami berhadapan dengan katedral St. Andrew’s dan Galeri Nasional Singapura. Nah, yang unik dari Padang Grandstand adalah bagian belakangnya. Ada panggung hiburan tempat Black Eyed Peas, Green Day, sampai Westlife manggung. Karena dekat dengan lokasi konser, maka mudah pula mengakses toilet atau tempat membeli makanan.

Namun, sekitar 18.45, awan gelap itu mulai meneteskan airnya. Hujan mulai turun. Tidak butuh waktu lama sampai jadi benar-benar deras. Penonton yang membawa anak dan tidak membawa payung atau jas hujan mulai mencari tempat berteduh. Sementara yang membawa perlengkapan lalu memakainya. Lantas pergi ke depan panggung atau langsung ke tribun.

Saya dan rombongan langsung mencari tempat duduk. Saking derasnya hujan, ada penonton yang membawa gelas minum plastik besar. Tadinya minuman itu sudah tinggal sedikit. Tapi, tidak lama kembali penuh. Tetapi oleh air hujan. Udara dingin mulai menusuk, apalagi jas hujan plastik tidak mampu menahan derasnya hujan. Air mulai ada yang merembes dan kena kulit. Semriwing jadinya.

Awalnya saya mengira guyuran hujan deras bakal membuat malam itu tidak meriah. Tapi saya salah. Ketika Black Eyed Peas muncul, suasana berubah. Para penonton larut dalam musik yang dibawakan musisi asal Amerika Serikat itu. Apalagi, ketika lagu I Gotta Feeling dinyanyikan. Pentonton terutama yang di depan panggung bergoyang lepas. Seolah mengamini lirik lagunya: That tonight’s gonna be a good night.

Bahkan dua usher (petugas yang mengarahkan tempat duduk) di dekat kami tidak kalah heboh goyangnya. Cara yang tepat untuk mengusir dingin akibat hujan yang turun makin deras.

***

Hujan turun sekitar dua jam dan membuat balapan ditunda satu jam. Ketika hujan reda, para penonton mulai memadati tribun. Saat itu, baru terlihat padatnya penonton. Berdasar data resmi Singapore Tourism Board, total ada 302.000 penonton pada malam itu. Hujan tidak mengurangi antusiasme penggemar. Jumlah penonton itu memecahkan rekor tertinggi selama 13 tahun pelaksanaan Formula 1 di Singapura.

Nah, kesiapan Singapura diuji. Termasuk, menjaga agar suasana venue tetap kondusif dan nyaman meski penonton sangat banyak. Salah satu ukurannya, kenyamanan toilet portable. Meski hujan dan membuat banyak lumpur, tetapi toilet di sana tetap bersih. Petugas dengan sigap membersihkan setiap ada pengunjung usai menggunakan toilet.

Jejak kaki berlumpur membuat mereka harus sigap. Apalagi, toilet tersebut berada tepat di seberang panggung yang becek dan berlumpur. Aksi sigap itu membuat puluhan toilet portable berwarna biru itu tidak basah berlebihan sehingga nyaman digunakan. Apalagi, masih bersih dan wangi.

Pekerjaan terbesar bagi penonton justru saat menuju dan kembali ke tribun dari toilet. Sebab, harus melewati tanah lapang yang becek. Memang, sudah diberi alas seperti paving namun terbuat dari plastik. Lebar yang cukup untuk empat orang membuat lalu lintas tersendat. Bagi yang cuek dengan kebersihan sepatunya bisa lewat tanah berlumpur. Sedangkan yang tidak, harus rela antri.

***

Balapan dimulai sekitar pukul 21.05. Saat itu, hujan sudah mulai reda. Sebelumnya, di benerapa sudut track mulai dikeringkan oleh petugas dan kendaraan khusus. Penonton mulai melepas jas hujan dan bersiap menonton balapan yang seharusnya bisa membuat Max Verstappen mengunci gelar juara itu.

Berbagai momen menarik membuat penonton di Padang Grandstand berulang kali mengeluarkan suara-suara. Terutama ketika ada pembalap yang menabrak, tergelincir, atau tidak bisa meneruskan balapan karena mesin bermasalah seperti milik Fernando Alonso. Penonton juga memberikan tepuk tangan kepada pembalap favoritnya.

Salah satu tepuk tangan besar oleh penonton di Padang Grandstand diberikan kepada Hamilton saat melintas di depan kami. Itu setelah pembalap Aston Martin tersebut mengalami insiden di tikungan 7 dan menabrak dinding. Namun, dia masih bisa melanjutkan pertandingan. Peristiwa itu membuat Hamilton harus mengganti sayap depannya dengan melakukan pit stop sebelum terus melanjutkan balapan.

Balapan malam itu berlangsung selama dua jam. Berakhir sekitar pukul 23.11 waktu Singapura dengan kemenangan Sergio Perez. Disusul oleh pembalap Ferrari, Charles Leclerc. Usai pertandingan berakhir, momen yang ditunggu-tunggu penonton tiba. Yakni, pesta kembang api. Setelah itu, penonton yang tidak pulang langsung menuju depan panggung untuk menonton Greend Day. Band tersebut membuka pertunjukan dengan lagu American Idiot. (*)

Update