
batampos – Timnas Argentina melaju mulus ke babak perempat final Piala Dunia 2026. Namun di tengah performa apik di lapangan, Federasi Sepak Bola Argentina (AFA) diterpa kabar kurang mengenakan.
Menurut laporan La Nacion yang dipetik dari Miami Herald, FBI tengah menyelidiki AFA atas dugaan pencucian uang yang berkaitan dengan transaksi perbankan senilai ratusan juta dolar. AFA yang dipimpin Claudio Tapia, disebut memindahkan dana lebih dari 300 juta dolar AS atau sekira Rp5,4 triliun.
“Harian Argentina La Nación, yang pertama kali mengungkap kasus ini pada Rabu, melaporkan bahwa FBI sedang menyelidiki bagaimana AFA memindahkan dana lebih dari 300 juta dolar AS ke sejumlah bank dan perusahaan di Florida Selatan serta wilayah lainnya di Amerika Serikat,” bunyi laporan Miami Herald, dikutip Kamis (9/7/2026).
Masih dari laporan tersebut, agen FBI dan jaksa dari Departemen Kehakimann AS memeriksa pengusaha olahraga asal Argentina, Guillermo Tofoni. Penyelidikan itu dilakukan saat La Albiceleste -julukan Timnas Argentina- menghadapi Tanjung Verde di babak 32 besar Piala Dunia 2026.
“Pemeriksaan terhadap Tofoni berfokus pada cara AFA menyusun perjanjian komersial internasionalnya, serta apakah transaksi yang melibatkan bank dan perusahaan di Amerika Serikat melanggar hukum AS dengan menyamarkan asal-usul maupun tujuan dana yang diduga ilegal,” terang laporan Miami Herald.
Penyelidakan juga mengarah kepada perusahaan yang berbasis di Florida Selatan, TourProdEnter LLC. Dokumen yang dianalisis La Nacion menyebut, TourProdEnter LLC mengelola sedikitnya 260 juta dolar AS pendapatan yang berkaitan dengan AFA. Namun, hanya sebagian kecil dana tersebut yang dapat dikaitkan langsung dengan biaya operasional federasi sejak Tapia menjabat pada 2017.
Laporan tersebut juga mengungkap sejumlah transaksi mencurigakan. Salah satunya pembayaran uang sebesar 340.00 dolar AS atau sekira Rp6,1 miliar kepada putra Jose Almaraz, sosok yang disebut sebagai penasihat spiritual skuad Argentina.
Pembayaran tersebut melalui 17 kali transfer, masing-masing senilai 20.000 dolar AS kepada putra Almaraz yang dipercaya membawa keberuntungan bagi skuad Argentina. Meski tidak memiliki jabatan resmi, seluruh biaya perjalanannya selalu ditanggung AFA.
Selain itu, penyidik juga mengungkap sejumlah transaksi mencurigakan lainnya yang dilakukan AFA. Di antaranya, pembayaran 468.000 dolar AS ke perusahaan milik Bendahara AFA Pablo Toviggino, pembayaran 40.000 dolar AS kepada rekan bisnis Toviggino, dan 2,3 juta dolar AS yang ditransfer ke sebuah perusahaan Amerika Serikat.
Sejauh in, penyidik telah melacak sekitar 90 juta dolar AS yang diduga digunakan secara tidak semestinya. Karena kasus tersebut melibatkan bank-bank di Amerika Serikat serta perusahaan terdaftar, kasus ini menarik perhatian otoritas Amerika Serikat.
Satu yang pasti, penyelidikan ini masih berada pada tahap awal, belum ada dakwaan resmi, penangkapan, atau pernyataan bahwa AFA maupun pihak terkait terbukti melakukan pelanggaran hukum. Para penyidik kini tengah menelusuri kemungkinan adanya pelanggaran hukum, termasuk tindak pidana pencucian uang maupun pelanggaran aturan pelaporan keuangan, seiring berlanjutnya kerja sama antara aparat penegak hukum Amerika Serikat dan Argentina.
Dengan demikian, penyidikan yang dilakukan FBI sama sekali tidak ada hubungannya dengan pertandingan Argentina melawan Mesir pada babak 16 besar Piala Dunia 2026. Duel tersebut disebut menjadi salah satu laga kontroversial karena kepemimpinan wasit Francois Letexiar yang dinilai berat sebelah.
Dalam pertandingan tersebut, Argentina menang comeback atas Mesir dengan skor akhir 3-2. Kemenangan itu membawa La Albiceleste melaju ke babak perempat final dan akan menantang Swiss pada Minggu (12/7) mendatang. (*)
