Kamis, 9 Juli 2026

Prancis vs Maroko: Pertemuan yang Terlalu Dini, Diprediksi Skor akan Ketat

Berita Terkait

Timnas Prancis saat menang melawan Senegal beberapa waktu lalu. (FIFA)

batampos – Pertandingan perempat final pertama Piala Dunia 2026 antara runner up dan semifinalis Piala Dunia 2022, di Boston Stadium pada Jumat (10/7) dini hari adalah pertemuan terlalu dini untuk dua tim yang semestinya bertemu di final.

Akibat kalah selisih gol dari Brasil sehingga menempati runner up Grup B, Singa Atlas berada di jalur bertemu terlalu dini dengan Les Bleus.

Tapi kalaupun juara Grup B, Maroko bahkan bisa membuat pertemuan yang lebih disayangkan lagi oleh penggemar sepak bola, karena akan bertemu terlalu dini dengan Norwegia dalam babak 16 besar

Maroko dan Norwegia adalah alasan banyak orang meyakini Piala Dunia edisi 48 tim di Amerika Utara ini akan menghasilkan juara Piala Dunia yang bukan dari “Geng Delapan”; Brasil, Jerman, Italia, Spanyol, Prancis, Argentina, Uruguay, dan Inggris.

Baik Norwegia maupun Maroko menjadi tim yang tidak saja membuat banyak orang terkesan oleh penampilannya, tapi juga oleh aura juaranya yang kuat.

Menahan seri Brasil pada fase grup, mengajak Belanda menentukan akhir babak 32 besar dengan adu penalti, dan menghentikan Kanada yang masih di bawah mereka, menunjukkan Maroko tim yang memiliki sistematika terukur dan mentalitas tinggi dalam meretas jalan ke partai puncak.

Perjalanan mereka pun fantastis. Sejak dikalahkan Kenya 1-0 dalam fase grup Piala Afrika 2025 pada 10 Agustus tahun itu, Maroko tak pernah kalah dalam 34 laga. Pada periode sama Prancis kalah 6 kali.

Walau pencapaian itu dihasilkan dari kebanyakan laga melawan tim-tim Afrika dan Asia, tetap saja mengesankan karena diafirmasi dalam Piala Dunia 2026.

Setelah seri 1-1 melawan Brasil, Achraf Hakimi cs mengalahkan Skotlandia, Haiti, Belanda, dan Kanada, dalam lapangan yang mereka dominasi sehingga lawan tak bisa kreatif sehingga gagal mengembangkan permainan dan menemui jalan buntu.

Dengan kekuatan lebih dari sekadar seimbang di semua lini, Maroko memiliki kemampuan hebat dalam merusak permainan lawan.

Mereka adalah salah satu tim paling konsisten di dunia berkat perpaduan sempurna antara disiplin dan taktik ala Eropa dan permainan menyerang yang penuh semangat.

Dipimpin Hakimi, yang disebut-sebut sebagai bek sayap terbaik di dunia saat ini, Maroko memiliki kemampuan membawa bola yang luar biasa hebat dan menghasilkan permainan yang mengalir sempurna.

Di bawah pelatih Mohamed Ouahbi, Singa Atlas menjadi tim dengan unit serang yang sulit ditebak, terutama berkat pemain-pemain serbaguna seperti Brahim Díaz dan Azzedine Ounahi yang dengan mudah bertukar posisi sehingga lawan kesulitan menjaga mereka.

Paling mungkin

Sayang, Maroko harus bertemu Prancis terlalu dini, padahal Les Bleus adalah tim yang paling sangat mungkin menghentikan petualangan mereka.

Les Bleus memenangkan empat dari enam pertandingan melawan Maroko sebelum pertemuan di Boston, Massachusetts, dalam Piala Dunia 2026 ini.

Satu-satunya kemenangan yang dicatat Maroko dari Prancis terjadi pada Piala Raja Hassan II pada 1998 ketika mereka menang adu penalti 8-7.

Prancis memenangkan pertemuan terakhirnya dengan Maroko dalam semifinal Piala Dunia 2022 berkat dua gol dari Theo Hernandez dan Randal Kolo Muani.

Saat itu, untuk pertama kali Maroko kebobolan lebih dari satu gol dari sembilan laga terakhirnya.

Kini, empat tahun setelah pertemuan itu, Maroko malah sudah kebobolan 4 gol, dan hanya mencatat dua clean sheet.

Sebaliknya, Prancis baru kebobolan dua kali, dan mencetak 14 gol sehingga bersama Argentina menjadi tim paling produktif dalam Piala Dunia 2026.

Fakta Prancis tidak banyak kebobolan membuktikan lini belakang Les Bleus tetap kuat, bahkan lebih kuat dari pada tim yang dihadapi Maroko dalam semifinal Piala Dunia 2022.

Prancis juga tim yang lebih agresif, yang indikatornya terlihat pada bagaimana mereka melakukan sentuhan di sepertiga terakhir, dengan frekuensi hanya kalah dari Spanyol.

Terutama sangat aktif di sayap kirinya, Les Bleus membuat 366 sentuhan. Angka ini memang masih di bawah Spanyol yang membuat 396 sentuhan, tapi di atas Maroko yang membuat 262 sentuhan.

Namun demikian, Prancis harus waspada karena dalam soal membuka ruang dan kemungkinan bola dialirkan dari kaki ke kaki, kinerja mereka masih di bawah Singa Atlas.

Jika angka tim asuhan Didier Deschamps dalam aspek ini 1.687, maka Maroko melakukannya 2.091 kali.

Maroko pun menjadi tim yang lebih aktif mengalirkan umpan, dengan total 3.126 umpan yang 2.771 di antaranya akurat. Sedangkan Prancis menyalurkan 2.872 umpan yang 2.585 di antaranya akurat.

Skor ketat

Tak hanya itu, Maroko juga lebih garang kala meneror pemain lawan yang tengah membawa bola. Pressing mereka, dalam kaitan itu, mencapai 1.150, berbanding 1.076 yang dibuat Prancis.

Akibatnya, kemampuan Singa Atlas dalam memaksa lawan salah umpan lebih tinggi dari Les Bleus; 226 berbanding 211.

Pemain-pemain lini tengah adalah penyumbang utama dalam memastikan lalu lintas bola terkendali dan tempo permainan disetel.

Pada aspek ini, poros ganda permainan Maroko berisi Ayoub Boudaddi dan Neil El Ayanoui sedikit lebih tangguh ketimbang poros ganda Prancis yang berisikan Adrien Rabiot yang pasangangnya berubah-ubah antara Aurelien Tchouameni dan Manu Kone.

Deschamps bisa meningkatkan kinerja poros permainannya dengan memainkan gelandang bertahan veteran nan berpengalaman, N’Golo Kante.

Deschamps juga mesti mempertajam lagi suntikan taktisnya kepada duet bek tengah Les Bleus, yang belum terlalu teruji karena dominannya lapangan tengah Prancis.

Tapi kini karena menghadapi prospek mendapatkan ujian berat dari Maroko di lini tengah, barisan pertahanan Prancis harus lebih kuat lagi karena Singa Atlas lebih bisa menembus poros permainan Prancis dari pada lawan-lawan mereka sebelumnya.

Jika Deschamps tak terlalu mengkhawatirkan skenario itu, maka itu karena dia sangat percaya bahwa kuartet serangan Prancis lebih maut ketimbang kuartet serangan Maroko. Lagi pula, Prancis memiliki bekal xG jauh lebih tinggi: 9,79 versus 6,4.

Dengan tiga asisten yang eksplosif pada diri Bradley Barcola, playmaker Michael Olise, dan Ousmane Dembele, Kylian Mbappe memang membuat sistem serangan Prancis jauh lebih maut dari Saibari cs.

Namun Maroko bisa mengatasi eksplosivitas Mbappe cs dengan mengeksploitasi titik lemah Prancis di tengah sehingga lini belakang Les Bleus berada dalam ancaman.

Duet William Saliba dan Dayot Upamecano memang sulit ditembus, tapi mereka rentan oleh situasi set piece di mana Hakimi dan Diaz adalah para eksekutor bola mati termaut yang dimiliki Maroko.

Semua skenario ini menunjukkan laga perempat final yang pemenangnya akan bertemu Spanyol atau Belgia di semifinal itu, akan berlangsung sengit di semua lini.

Skor ketat menjadi kemungkinan terbesar untuk kesimpulan dari laga ini, lebih karena permainan liat Maroko.

Namun prospek adu penalti juga besar. Tapi Mbappe bisa menjadi faktor penentu seperti dia tunjukkan kala melawan Paraguay di 16 besar.

Jika Maroko yang menang, maka dunia semakin yakin bakal ada juara baru tahun ini. Tapi jika Prancis yang menang, maka perjalanan Deschamps guna menjadi pelatih pertama di dunia yang dua kali menjuarai Piala Dunia bisa semakin mulus.(*)

 

Update