
batampos – Harapan Asia untuk mencetak sejarah di Piala Dunia 2026 resmi berakhir setelah Australia kalah dari Mesir pada babak 32 besar, Sabtu (4/7/2026).
Kekalahan melalui adu penalti itu membuat Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) dipastikan tidak memiliki satu pun wakil di babak 16 besar meski mengirim rekor sembilan negara ke turnamen edisi kali ini.
Piala Dunia 2026 menjadi edisi pertama yang menggunakan format baru dengan 48 peserta. Penambahan jumlah tim membuat kuota Asia meningkat signifikan hingga sembilan wakil, termasuk dua negara debutan, Yordania dan Uzbekistan.
Banyak pihak sempat memprediksi peningkatan kuota tersebut akan membuka peluang lebih besar bagi Asia untuk menorehkan prestasi terbaik sepanjang sejarah. Namun hasil di lapangan justru menghadirkan kenyataan yang bertolak belakang.
Wakil Asia Gagal Bersaing di Fase Grup
Mayoritas wakil Asia gagal melewati fase grup meski mendapat kesempatan lebih besar berkat format baru Piala Dunia. Dari sembilan peserta AFC, tujuh tim langsung tersingkir sebelum memasuki babak gugur.
Korea Selatan dan Iran sebenarnya mampu finis di peringkat ketiga grup masing-masing. Namun perolehan poin keduanya tidak cukup untuk masuk daftar tim peringkat ketiga terbaik yang berhak melaju ke babak 32 besar.
Baca Juga: Prediksi Laga Timnas Kolombia vs Ghana Piala Dunia 2026: Los Cafeteros Diunggulkan
Sementara itu, Uzbekistan, Yordania, Qatar, Irak, dan Arab Saudi harus puas menjadi penghuni dasar klasemen grup masing-masing. Hasil tersebut membuat lima negara tersebut mengakhiri perjalanan mereka lebih cepat.
Padahal, hadirnya Uzbekistan dan Yordania sebagai debutan sempat menjadi warna baru bagi Asia di Piala Dunia 2026. Sayangnya pengalaman pertama mereka di panggung terbesar sepak bola dunia belum mampu menghasilkan kejutan.
Jepang dan Australia Jadi Harapan Terakhir Asia
Di tengah banyaknya kegagalan, Jepang dan Australia menjadi dua negara AFC yang berhasil menjaga asa Asia. Jepang lolos sebagai runner-up Grup F, sedangkan Australia finis sebagai runner-up Grup D.
Keberhasilan tersebut sempat memunculkan optimisme baru. Banyak yang berharap salah satu di antara keduanya mampu melangkah hingga babak 16 besar atau bahkan menciptakan kejutan lebih besar.
Namun undian babak 32 besar menghadirkan tantangan yang sangat berat. Jepang harus menghadapi salah satu kandidat juara, Brasil, sementara Australia bertemu Mesir yang tampil sangat solid sepanjang turnamen.
Jepang Nyaris Paksa Brasil ke Perpanjangan Waktu
Jepang memberikan perlawanan sengit saat menghadapi Brasil pada babak 32 besar. The Samurai Blue mampu mengimbangi permainan salah satu favorit juara dunia tersebut sepanjang pertandingan.
Ketika laga tampak akan berlanjut ke babak tambahan, Brasil justru memecahkan kebuntuan pada masa injury time.
Baca Juga: Kisah Bek Timnas Portugal Renato Veiga, Tumbuh di Maroko hingga Memilih Memeluk Islam
Gabriel Martinelli mencetak gol kemenangan yang mengakhiri perjuangan Jepang sekaligus memupus harapan Asia untuk memiliki dua wakil di babak 16 besar.
Kekalahan tersebut terasa menyakitkan karena Jepang hanya terpaut beberapa menit dari peluang memperpanjang pertandingan. Meski tampil disiplin sepanjang laga, satu momen menentukan membuat mereka harus mengakhiri perjalanan di Piala Dunia 2026.
Australia Tumbang Adu Penalti, Asia Resmi Kehabisan Wakil
Harapan terakhir Asia kini berada di tangan Australia saat menghadapi Mesir. Socceroos sempat tampil impresif dan mampu memaksa pertandingan berakhir imbang 1-1 hingga waktu normal selesai.
Pertandingan kemudian berlanjut ke babak adu penalti. Dalam momen penentuan tersebut, Mesir tampil lebih tenang dan sukses menang dengan skor 4-2 untuk memastikan tiket ke babak 16 besar.
Kekalahan Australia sekaligus menjadi penutup perjalanan seluruh wakil AFC di Piala Dunia 2026. Tidak ada lagi negara Asia yang tersisa dalam persaingan menuju gelar juara dunia.
Catatan ini menjadi ironi mengingat AFC mengirim jumlah peserta terbanyak sepanjang sejarah ke Piala Dunia. Dengan sembilan wakil, Asia justru gagal menempatkan satu pun tim di babak 16 besar.
AFC pun menjadi konfederasi kedua yang dipastikan kehabisan wakil setelah OFC. Sebelumnya, satu-satunya wakil OFC, Selandia Baru, sudah lebih dulu tersingkir pada fase grup sehingga tidak mampu melanjutkan perjalanan ke fase gugur.
Hasil tersebut tentu menjadi bahan evaluasi besar bagi sepak bola Asia. Penambahan kuota ternyata belum otomatis meningkatkan daya saing negara-negara AFC ketika berhadapan dengan tim-tim elite dari konfederasi lain.
Meski demikian, pengalaman tampil dengan jumlah peserta yang lebih banyak tetap menjadi modal berharga menjelang edisi-edisi berikutnya.
Negara-negara Asia kini memiliki pekerjaan rumah besar untuk meningkatkan kualitas kompetisi domestik, pembinaan pemain muda, dan kesiapan menghadapi tekanan di level tertinggi.
Piala Dunia 2026 menjadi bukti bahwa kesempatan tampil lebih banyak harus diiringi peningkatan kualitas permainan.
Tanpa perkembangan yang signifikan, kuota tambahan belum tentu mampu menghasilkan prestasi yang lebih baik bagi sepak bola Asia di masa depan. (*)
