Rabu, 22 Juli 2026

10 Pemain yang Bersinar di Piala Dunia 2026, Dari Kiper Tanjung Verde hingga Pemain Muda Maroko

Berita Terkait

Pemain Maroko Ismael Saibari (kiri) mencetak gol kemenangan buat Maroko. (FIFA)

batampos – Piala Dunia tak melulu membicarakan soal bintang-bintang terbesar yang berlaga di panggung termegah. Tetapi ajang pencetak sosok superstar baru akan selalu menjadi topik sampingan di setiap gelarannya.

Kisah-kisah tertuang pada gelaran paling bergengsi antarnegara ini memiliki makna yang lebih mendalam. Hikayat itu bercerita tentang para pemain yang awalnya tidak dikenal luas, namun pada akhirnya pulang dengan reputasi dan ketenaran di atas awan.

Kompetisi musim panas yang dilaksanakan di Meksiko, Kanada, dan Amerika Serikat ini turut membangun karir para pemain dari berbagai penjuru dunia saat mereka berjuang membawa negara masing-masing meraih supremasi sepak bola.

Melansir dari Sport Illustrated, berikut 10 nama pemain naik daun setelah gelaran Piala Dunia 2026.

1. Vozinha – Tanjung Verde

Jika seseorang bisa disebut pemain paling naik daun pada usia 40 tahun, maka Vozinha jelas telah membuktikannya. Kiper asal Tanjung Verde ini menghabiskan hampir seluruh kariernya jauh dari sorotan dunia sepak bola dan datang ke Piala Dunia setelah dua musim berkompetisi di kasta kedua Portugal.

Namun, dia berhasil memikat perhatian dunia setelah membuat frustrasi tim nasional yang akhirnya menjadi juara, Spanyol, dalam laga pembuka grup yang menjadi awal perjalanan Tanjung Verde untuk tak terkalahkan di babak penyisihan awal.

Catatan tanpa kebobolan yang mengesankan itu kembali dia torehkan pada pertandingan berikutnya melawan Arab Saudi, sementara saat menghadapi Argentina di babak 32 besar, Vozinha melakukan delapan penyelamatan yang memaksa permainan hingga babak perpanjangan waktu.

Muncul berbagai spekulasi mengenai peluang karir klub yang mungkin terbuka baginya berkat penampilan di Piala Dunia ini, termasuk rumor ketertarikan dari klub yang dibela Lionel Messi, Inter Miami. Untuk saat ini, statusnya masih sebagai pemain bebas transfer.

2. Tim Payne – Selandia Baru

Bek asal Selandia Baru, Tim Payne, menjadi sorotan dunia musim panas ini karena alasan yang sangat berbeda. Ia pindah dari Wellington Phoenix ke Club Olimpia di Paraguay tepat setelah Piala Dunia dimulai, dengan nilai transfer sekitar USD 500 ribu bagi klub barunya.

Saat itu, pemain berusia 32 tahun ini sudah lebih dulu viral setelah sebuah video dari seorang influencer asal Argentina mengajak orang-orang untuk mengikuti akun Payne dan memberikan komentar pada unggahannya.

Akhirnya, bek veteran ini pun mendadak terkenal dalam waktu singkat. Payne mengawali musim panas dengan kurang dari 5.000 pengikut Instagram, namun kini jumlah pengikutnya telah mencapai enam juta.

Bahkan sempat ada kampanye iklan di mana DoorDash ‘secara keliru’ menandai rapper asal Amerika Serikat, T-Pain. kejadian ini menarik perhatian luas karena awalnya tampak sebagai kesalahan yang murni namun sangat lucu menurut publik media sosial.

3. Johan Manzambi – Swiss

Gelandang asal Swiss, Johan Manzambi, menjalani musim yang menjadi titik balik karier klubnya bersama Freiburg di Bundesliga pada musim 2025/2026, lalu melanjutkan performa gemilang tersebut di Piala Dunia.

Hingga akhirnya, klub kuda hitam asal Liga Inggris, Aston Villa menggelontorkan dana sekitar GBP 60 juta untuk merekrut pesepak bola berusia 20 tahun itu segera setelah turnamen antarnegara ini berakhir.

Sebelumnya, Newcastle United juga sempat berminat akan jasanya, namun fakta bahwa Manzambi baru saja menghadapi Villa di final Liga Eropa 2026 mungkin turut memengaruhi situasi wonderkid naik daun tersebut dalam memilih pijakan karier barunya.

Talenta muda ini mencatatkan total lima gol dan asis saat Swiss melaju mulus melewati fase grup dan kemudian memenangkan pertandingan fase gugur Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 1938 di babak 32 besar.

Sayangnya, dia harus absen akibat cedera pada dua laga berikutnya menjadi pukulan bagi perjuangan timnya yang harus dipulangkan Argentina pada perempat final dengan skor 1–3 melalui babak tambahan waktu.

4. Ayyoub Bouaddi – Maroko

Maroko baru memberi konfirmasi kepada FIFA pada Mei untuk status pendaftaran gelandang 18 tahun, Ayyoub Bouaddi, setelah naturalisasi dari Prancis. Namun, ia tampil dalam ketiga pertandingan uji coba, kemudian menunjukkan performa gemilang saat melawan Brasil.

Ketenangan, kecerdasan menguasai lapangan tengah, serta kedewasaan Bouaddi menjadi buah bibir banyak orang, meskipun sebelumnya ia pernah bermain penuh selama 90 menit saat Lille mengalahkan Real Madrid di Liga Champions tepat pada hari ulang tahunnya yang ke-17.

Dia mempertahankan performa impresif tersebut sepanjang turnamen musim panas ini, meski akhirnya Prancis terbukti terlalu tangguh di babak perempat final untuk Maroko yang sempat digadang-gadang bisa merepotkan Kylian Mbappe, cs.

Kini, perhatian tertuju pada klub mana yang meminang jasa Bouaddi musim depan. Lille mematok harga lebih dari USD 100 juta dolar untuknya, dan Manchester City menjadi yang terdepan untuk memproyeksikan sang bintang menggantikan peran Rodri di masa mendatang.

5. Alex Freeman – Amerika Serikat

Alex Freeman merupakan pemain termuda di skuad tim nasional Amerika Serikat yang tampil di hadapan pendukungnya sendiri dalam gelaran Piala Dunia musim panas ini. Dalam lima laga, ia hanya sekali bermain 13 menit, sisanya dipercaya tampil penuh oleh Mauricio Pochettino.

Ia sukses mencatatkan satu asis dan satu gol gemilang dalam dua pertandingan pertama. Kini kesempatannya melebarkan karier di Eropa sangat terbuka setelah memulai tahun 2026 dengan pindah ke La Liga, bersama Villarreal, sebelumnya tampil gemilang di MLS bersama Orlando City.

Yang menarik, Alex ini berasal dari keluarga atlet, ayahnya adalah mantan receiver professional di NFL, Green Bay Packers sekaligus juara Super Bowl XXXI. Justru Alex menjadi pemain sepak bola yang gemilang di usianya yang masih 21 tahun.

6. Ismael Saibari – Maroko

Bayern Munchen menjadi klub terdepan yang memulai pembicaraan untuk merekrut Ismael Saibari saat Piala Dunia bergulir, dan mereka menuai hasil positif setelah sang striker mencetak gol dalam tiga pertandingan fase grup secara beruntun.

Dengan cepat Die Roten memuluskan langkah cepat timnya melaju ke babak selanjutnya untuk tanda tangan Saibari. Nilai transfer sebesar USD 57 juta disepakati PSV Eindhoven langsung memantapkan sang pemain 25 tahun ini di Allianz Arena musim depan.

Cedera yang dialami Saibari datang pada saat yang sangat tidak menguntungkan bagi Maroko. Dia terpaksa meninggalkan lapangan bahkan sebelum jeda minum pertama pada pertandingan babak 16 besar melawan Kanada.

Saibari pun tidak dapat tampil menghadapi Prancis di babak berikutnya, dan absennya sosok penyerang utama sebagai pemain nomor 9 ini membuat tim berjuluk Atlas Lions kehilangan tumpuan serangan.

7. Crysensio Summerville – Belanda

Setelah mencatatkan 84 penampilan di Liga Inggris sejak 2021 dan pindah ke West Ham United dengan nilai transfer cukup besar pada 2024, Crysencio Summerville sebenarnya bukan sosok yang asing sebelum Piala Dunia ini.

Namun, di sisi lain, dia adalah pemain yang telah mengalami dua kali degradasi dalam empat musim terakhir di kompetisi tertinggi Inggris dan baru menjalani debutnya bersama tim nasional Belanda pada tahun 2026.

Nama Summerville kini kembali melambung di pasar transfer saat mencetak gol krusial dalam hasil imbang 2–2 melawan Jepang pada laga debutnya di Piala Dunia, lalu mencetak gol serta asis pada laga berikutnya melawan Swedia.

Dia juga mencatatkan asis untuk satu-satunya gol Belanda di babak 32 besar melawan Maroko, yang membuktikan bahwa dengan dukungan rekan setim yang lebih baik dibandingkan sebelumnya, ia mampu menunjukkan performa yang lebih konsisten.

8. Andreas Schjelderup – Norwegia

Andreas Schjelderup terus menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun sejak menembus tim utama Benfica pada tahun 2024. Ia juga menjadi bagian dari skuad Norwegia yang akhirnya harus menelan kekecewaan karena terhenti di perempat final.

Pemain berusia 22 tahun itu awalnya bukan pemain inti dalam turnamen tersebut. Ia tampil sebagai pemain pengganti saat Norwegia meraih kemenangan atas Irak dan Senegal di fase grup, di mana hasil itu memastikan kelolosan mereka.

Schjelderup sempat masuk dalam susunan pemain saat menghadapi Prancis dalam laga yang sudah tidak menentukan nasib tim, dengan sumbangan asisnya, namun kemudian digantikan posisinya pada laga fase gugur melawan Pantai Gading.

Momen krusial terjadi saat melawan Brasil, pelatih Norwegia, Stale Solbakken, akhirnya memberikan kesempatan kepada Schjelderup. Sang winger kembali turun dari bangku cadangan dan langsung mencetak asis untuk kedua gol Erling Haaland yang sukses menumbangkan Brasil.

Dia akhirnya tampil sebagai starter saat menghadapi Inggris di babak delapan besar dan mencetak gol pembuka yang sempat membuat Norwegia berada di ambang pintu menuju semifinal. Sayangnya pasukan The Vikings gagal mempertahankan keunggulan.

9. Manu Kone – Prancis

Manu Kone sebelumnya belum pernah menjadi pemain inti yang konsisten bagi Prancis, namun setelah Piala Dunia ini, dia telah menunjukkan kelayakannya untuk mengubah status tersebut di mata dunia.

Gelandang AS Roma berusia 25 tahun itu datang ke Amerika Utara sebagai pelapis utama bagi Adrien Rabiot dan Aurelien Tchouameni. Dia pertama kali tampil sebagai starter saat melawan Irak akibat cedera yang dialami Tchouaméni, sebuah peran yang berlanjut hingga dua laga berikutnya.

Dia kembali dipercaya tampil sejak awal dalam dua laga fase gugur melawan Paraguay dan Maroko. Meskipun Tchouameni sudah pulih saat Prancis melakoni laga semifinal, Kone juga tetap diturunkan pada jeda babak pertama untuk menggantikan Rabiot.

Mengingat gelandang atletis yang piawai merebut bola merupakan komoditas langka di bursa transfer, ia juga akan menjadi sosok yang patut disimak selama sisa periode bursa transfer musim panas ini.

Kini, jasanya telah dominati jajaran raksasa Liga Inggris, seperti Arsenal dan Manchester City, serta Manchester United kini memimpin dalam perburuan jasa Ball Winning Midfielder yang sedang laris manis ini.

10. Djed Spence – Inggris

Banyak pihak yang secara terbuka mempertanyakan keputusan Thomas Tuchel memilih Djed Spence, mengingat performanya yang tidak konsisten bersama Tottenham Hotspur menjelang akhir musim kompetisi klub.

Pilihan alternatif yang masuk akal saat itu adalah Luke Shaw, Lewis Hall, dan Myles Lewis-Skelly terlewat dalam Piala Dunia kali ini sehingga banyak tanda tanya dalam penunjukkan Spence dalam skuad The Three Lions.

Awalnya, Spence bergantian posisi dengan Nico O’Reilly di fase grup, dan saat dia tampil sebagai starter melawan RD Kongo di babak 32 besar, perannya sebenarnya adalah sebagai pelapis di posisi bek kanan.

Namun, Tuchel kemudian menilai pemain Spurs tersebut lebih mampu meredam permainan Argentina di semifinal dan secara mengejutkan kembali menurunkannya sehingga namanya banyak dipuji.

Salah satu momen yang paling membekas dalam ingatan adalah aksi tekel krusial terhadap Giuliano Simeone sesaat setelah Inggris unggul. Spence pun pulang dengan reputasi yang melambung tinggi setelah melewati tahun-tahun penuh tantangan. (*)

 

Update