
batampos – Seleksi atletik Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) Kepri 2026 menuai protes dari orang tua atlet. Mereka menyoroti dugaan adanya peserta yang lolos tanpa melalui proses pendaftaran dan seleksi resmi.
Salah seorang orang tua atlet yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan, polemik bermula saat terdapat atlet yang disebut masuk setelah pendaftaran resmi ditutup pada 8 April 2026.
Ia mengaku telah mempertanyakan hal tersebut kepada panitia seleksi cabang olahraga (cabor) atletik. Namun, hingga kini belum mendapatkan penjelasan yang memuaskan.
“Ada atlet yang masuk tanpa mendaftar dan tidak mengikuti seleksi, tapi dinyatakan lolos,” ujarnya, Jumat (1/5).
Selain itu, ia juga menilai proses seleksi tidak transparan karena tidak ada sosialisasi terkait standar kelulusan. Misalnya, pada nomor lempar lembing, atlet disebut harus mencapai jarak minimal tertentu, namun informasi itu tidak disampaikan sejak awal.
“Kami tidak tahu target yang harus dicapai. Tiba-tiba ada yang dinyatakan lolos tanpa melalui proses yang sama,” katanya.
Menurutnya, kondisi ini berpotensi mencederai semangat dan mental atlet yang telah mengikuti seleksi secara resmi.
Ia juga mengkritik pendekatan panitia yang dinilai lebih fokus mengejar target medali ketimbang pembinaan atlet muda.
“Kalau belum mencapai target, seharusnya dibina, bukan malah mengambil atlet di luar proses,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) Tanjungpinang, Ade Noverwin, membantah tudingan tersebut. Ia memastikan seluruh atlet yang dinyatakan lolos telah melalui tahapan seleksi.
“Semua atlet yang masuk tetap melewati proses seleksi,” katanya singkat.
Hingga kini, polemik seleksi Popda Kepri 2026 masih menjadi sorotan, terutama terkait transparansi dan keadilan dalam proses penjaringan atlet. (*)
