
batampos – Pertemuan Inggris melawan Argentina pada semifinal Piala Dunia 2026 di Mercedes-Benz Stadium, Atlanta, Kamis (16/7/2026) dini hari pukul 02.00 WIB, kembali menghidupkan salah satu rivalitas terbesar dalam sejarah sepak bola dunia.
Duel ini menjadi pertemuan pertama kedua negara dalam 21 tahun terakhir dan menghadirkan kembali memori sejumlah laga ikonik yang dipenuhi drama, kontroversi, hingga momen magis.
Rivalitas Inggris dan Argentina tak hanya dibangun oleh persaingan di atas lapangan, tetapi juga sejarah panjang yang membuat setiap pertemuan selalu sarat gengsi.
Dari kontroversi kartu merah hingga gol legendaris Diego Maradona, duel kedua negara hampir selalu menghasilkan cerita yang dikenang sepanjang masa.
Perempat Final Piala Dunia 1966 Jadi Awal Rivalitas Panas
Pertemuan pertama Inggris dan Argentina di Piala Dunia sebenarnya terjadi pada fase grup edisi 1962 di Chile. Inggris menang 3-1 dan lolos ke perempat final berkat keunggulan selisih gol atas Argentina.
Namun, rivalitas benar-benar memanas ketika keduanya bertemu pada perempat final Piala Dunia 1966 di Wembley. Inggris menang tipis 1-0 lewat sundulan Geoff Hurst dalam pertandingan yang diwarnai ketegangan sejak awal.
Laga tersebut dikenang karena kapten Argentina Antonio Rattin mendapat kartu keluar setelah memprotes keputusan wasit Rudolf Kreitlein.
Rattin menolak meninggalkan lapangan hingga pertandingan sempat tertunda sekitar delapan menit karena meminta penerjemah.
Insiden itu kemudian menjadi salah satu alasan lahirnya penggunaan kartu kuning dan kartu merah pada Piala Dunia 1970.
FIFA melalui Ken Aston mengembangkan sistem kartu agar keputusan wasit lebih mudah dipahami semua pemain tanpa hambatan bahasa.
Kontroversi tak berhenti setelah pertandingan usai.
Argentina menilai gol Geoff Hurst tercipta dalam posisi offside, sementara pelatih Inggris Alf Ramsey bahkan menyebut pemain Argentina sebagai “animals” saat konferensi pers setelah pertandingan.
Gol Tangan Tuhan dan Gol Abad Ini Milik Diego Maradona
Jika ada satu pertandingan yang paling melekat dalam rivalitas Inggris melawan Argentina, maka jawabannya adalah perempat final Piala Dunia 1986 di Stadion Azteca, Meksiko.
Pertandingan itu berlangsung empat tahun setelah Perang Falklands yang semakin memperuncing hubungan kedua negara.
Enam menit memasuki babak kedua, Diego Maradona mencetak gol pertama dengan meninju bola menggunakan tangan melewati kiper Peter Shilton.
Meski mendapat protes keras dari pemain Inggris, wasit tetap mengesahkan gol tersebut.
Maradona kemudian menyebut gol itu lahir berkat “Hand of God” atau Gol Tangan Tuhan. Hingga kini, momen tersebut masih menjadi salah satu kontroversi terbesar dalam sejarah Piala Dunia.
Hanya empat menit berselang, Maradona kembali menciptakan sejarah melalui aksi individu luar biasa. Ia menggiring bola dari area pertahanannya sendiri, melewati lima pemain Inggris dalam 11 detik sebelum menaklukkan Peter Shilton.
Gol tersebut kemudian dikenal sebagai “Goal of the Century” atau Gol Abad Ini. Meski Gary Lineker sempat memperkecil ketertinggalan menjadi 2-1, Argentina tetap menang dan akhirnya meraih gelar juara dunia kedua mereka.
Drama David Beckham dan Adu Penalti di Piala Dunia 1998
Rivalitas kembali memanas pada babak 16 besar Piala Dunia 1998 di Saint-Etienne, Prancis. Pertandingan berlangsung spektakuler sejak awal dengan empat gol tercipta hanya dalam satu babak.
Gabriel Batistuta membuka keunggulan Argentina melalui penalti pada menit ketujuh.
Inggris membalas lewat penalti Alan Shearer sebelum Michael Owen mencetak salah satu gol terbaik sepanjang kariernya melalui solo run dari tengah lapangan.
Argentina menyamakan skor menjadi 2-2 melalui Javier Zanetti setelah skema tendangan bebas yang cerdik.
Memasuki babak kedua, pertandingan berubah drastis ketika David Beckham diusir wasit akibat menendang betis Diego Simeone sebagai bentuk balasan setelah dijatuhkan.
Kartu merah Beckham menjadi salah satu insiden paling terkenal dalam sejarah sepak bola Inggris.
Gelandang Manchester United itu mendapat kritik luar biasa dari media dan publik Inggris karena dianggap menjadi penyebab timnya tersingkir.
Meski bermain dengan 10 orang, Inggris hampir menang lewat sundulan Sol Campbell. Namun gol tersebut dianulir karena Alan Shearer dinilai melanggar kiper Carlos Roa sebelum bola masuk ke gawang.
Pertandingan akhirnya ditentukan melalui adu penalti. Argentina menang 4-3 setelah Carlos Roa menggagalkan tendangan Paul Ince dan David Batty untuk membawa La Albiceleste melaju ke perempat final.
Beckham Menuntaskan Dendam pada Piala Dunia 2002
Empat tahun kemudian, Inggris mendapat kesempatan membalas kekalahan tersebut pada fase grup Piala Dunia 2002 di Sapporo, Jepang.
Pertandingan memiliki arti penting karena Inggris membutuhkan kemenangan setelah bermain imbang melawan Swedia pada laga pembuka.
Gol semata wayang lahir menjelang turun minum ketika Michael Owen dijatuhkan Mauricio Pochettino di kotak penalti.
David Beckham yang menjadi eksekutor menjalankan tugasnya dengan sempurna melalui tendangan penalti yang mengarah ke tengah gawang.
Laga ini juga mempertemukan kembali Beckham dan Diego Simeone setelah insiden panas empat tahun sebelumnya.
Berbeda dengan Piala Dunia 1998, keduanya mampu bermain penuh selama 90 menit dan bahkan sempat berjabat tangan di tengah pertandingan.
Kemenangan 1-0 membuat Inggris melangkah ke babak gugur. Sebaliknya, Argentina harus tersingkir di fase grup, menjadi kegagalan pertama mereka berhenti di penyisihan grup sejak Piala Dunia 1962.
Kini, setelah jeda selama 21 tahun tanpa saling berhadapan, Inggris dan Argentina kembali bertemu dengan tiket final Piala Dunia 2026 sebagai taruhannya.
Rivalitas yang telah melahirkan begitu banyak momen bersejarah dipastikan kembali menghadirkan pertandingan yang dinantikan jutaan pencinta sepak bola di seluruh dunia. (*)
