Senin, 26 Januari 2026

Transfer Jay Idzes ke Udinese Kandas, Bologna dan Lecce Siap Menyambut

Berita Terkait

Pemain Timnas Sepak Bola Indonesia Jay Idzes dalam laga Grup C Babak Ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

batampos – Mimpi Jay Idzes untuk bergabung dengan Udinese tampaknya harus kandas di tengah jalan. Kapten Timnas Indonesia ini gagal mewujudkan perpindahan ke klub Serie A tersebut akibat tuntutan harga yang dinilai terlalu tinggi oleh manajemen Udinese.

Spekulasi kepindahan Jay Idzes ke Udinese sebenarnya memiliki fondasi logis yang kuat. Klub asal Friuli ini membutuhkan pengganti untuk Jaka Bijol, bek tengah Slovenia yang dijual ke Leeds United dengan nilai fantastis 22 juta euro.

Posisi tersebut menjadi prioritas utama Udinese dalam bursa transfer musim ini. Profil Idzes sebagai bek tengah dengan pengalaman internasional dan kemampuan adaptasi yang terbukti di Serie A menjadikannya kandidat ideal.

Pemain berusia 25 tahun ini telah menunjukkan konsistensi performa di Venezia. Bahkan dipercaya sebagai kapten tim, sebuah indikator kepemimpinan yang dicari Udinese.

Meskipun Udinese akan meraup keuntungan besar dari penjualan Bijol, realitas finansial tidak semudah yang dibayangkan. Dari 22 juta euro yang diterima, klub harus menyisihkan 10 persen atau 2,2 juta euro untuk CSKA Moskow sebagai bagian dari klausul sell-on fee ketika mereka merekrut Bijol pada 2022.

Sisa dana 19,8 juta euro tersebut harus dialokasikan untuk berbagai kebutuhan skuad, tidak hanya untuk satu posisi. Ketika Venezia menetapkan harga Idzes mendekati valuasi Transfermarkt 7,5 juta euro (Rp141 miliar), Udinese menganggap investasi tersebut terlalu besar untuk satu pemain pengganti.

Aspek yang membuat Udinese ragu adalah perbandingan dengan rekrutmen Bijol tiga tahun lalu. Bek Slovenia tersebut didapat dengan harga 4 juta euro dari CSKA Moskow, hampir setengah dari tuntutan harga Idzes saat ini.

Perbedaan signifikan ini mencerminkan inflasi pasar transfer yang terjadi pasca-pandemi, dimana nilai pemain mengalami lonjakan drastis. Namun, dari perspektif Udinese, mereka belum yakin apakah kualitas Idzes sebanding dengan premium price yang harus dibayar.

Keraguan Udinese justru menjadi kesempatan terbuka yang bisa dimanfaatkan kompetitor lain di Serie A. Bologna dan Lecce dilaporkan mulai mengintensifkan pendekatan mereka terhadap Idzes, menciptakan persaingan yang semakin ketat.

Bologna, yang baru saja lolos ke Liga Champions, memiliki daya tarik tersendiri dengan menawarkan pengalaman kompetisi Eropa. Sementara Lecce, meski dengan status yang lebih modest, dapat memberikan jaminan waktu bermain yang lebih besar kepada Idzes.

Situasi ini menciptakan posisi tawar yang lebih kuat bagi Venezia dalam mempertahankan harga tinggi untuk kapten mereka. Dari sudut pandang Venezia, keputusan untuk mempertahankan harga tinggi Idzes bukanlah tanpa dasar. Pemain Indonesia-Belanda ini telah menjadi tulang punggung pertahanan tim dan figur kepemimpinan yang sulit digantikan.

Kontrak yang masih berlaku hingga 2027 memberikan posisi negosiasi yang kuat bagi Venezia. Mereka tidak dalam tekanan untuk menjual dan dapat menunggu penawaran yang sesuai dengan valuasi internal mereka.

Selain itu, performa Idzes bersama Timnas Indonesia di berbagai turnamen internasional telah meningkatkan nilai, terutama di pasar Asia yang semakin menguntungkan secara komersial.

Kegagalan transfer ke Udinese sebenarnya bukan akhir dari segalanya bagi Idzes. Venezia tetap memberikan platform yang solid untuk pengembangan karirnya, meski dengan tantangan yang berbeda dibandingkan klub besar seperti Udinese.

Namun, dari perspektif ambisi karir, gagalnya perpindahan ini mungkin menunda rencana Idzes untuk bermain di level yang lebih tinggi dalam kompetisi domestik Italia. Udinese, dengan tradisi dan stabilitas Serie A yang lebih mapan, akan memberikan exposure yang berbeda dibandingkan Venezia.

Kasus Idzes ini menjadi cermin realitas pasar transfer modern yang semakin kompleks. Harga tinggi tidak selalu menjamin transfer akan terjadi, terutama ketika klub pembeli memiliki batasan anggaran dan alternatif lain di pasar.

Bagi pemain Indonesia lainnya, situasi ini menunjukkan pentingnya membangun nilai pasar secara konsisten sambil tetap realistis terhadap ekspektasi transfer. Kualitas performa harus sejalan dengan tuntutan harga yang wajar di mata klub-klub potensial.

Meski transfer ke Udinese gagal terwujud, pintu masih terbuka lebar bagi Idzes untuk pindah ke klub lain. Minat Bologna dan Lecce menunjukkan bahwa reputasinya di Serie A tetap solid dan menarik perhatian.

Bursa transfer masih berlangsung beberapa minggu ke depan, memberikan waktu bagi semua pihak untuk melakukan negosiasi ulang atau mencari solusi kreatif. Venezia mungkin akan lebih fleksibel dengan harga jika mendapat penawaran konkret dari klub lain.

Yang pasti, Jay Idzes tetap menjadi salah satu pemain Indonesia paling berharga di pasar Eropa, dengan atau tanpa perpindahan ke Udinese musim ini. Situasi transfer Jay Idzes akan terus dipantau mengingat masih ada waktu dalam bursa transfer musim panas ini. Keputusan final akan sangat bergantung pada fleksibilitas negosiasi antara semua pihak yang terlibat. (*)

Update