
batampos – Timnas Futsal Indonesia gagal menjuarai ASEAN Futsal Championship 2026 atau dikenal Piala AFF Futsal 2026 usai dikalahkan Thailand pada babak final. Timnas Futsal Indonesia takluk 1-2 di partai final yang berlangsung di Nanthaburi, Minggu (12/4).
Anak asuh Hector Souto ini takluk 1-2 setelah sempat bermain imbang 1-1 di babak pertama sebelum akhirnya tertinggal dan tak mampu membalas.
Sejak awal pertandingan, Indonesia tampil tanpa rasa gentar menghadapi tuan rumah.
Tekanan tinggi yang diterapkan membuat Thailand kesulitan mengembangkan permainan dan beberapa kali kehilangan bola di area berbahaya.
Skema pressing ketat membuat alur serangan Thailand tidak berjalan mulus. Bola-bola yang dilepas sering berhasil dipotong pemain Indonesia dan langsung diubah menjadi serangan balik cepat.
Meski begitu, hingga 10 menit laga berjalan, kedua tim belum mampu menciptakan gol. Permainan cenderung berhati-hati dengan lini pertahanan yang sama-sama solid, meski serangan kerap terlihat terburu-buru.
Peluang emas sempat hadir saat laga memasuki menit ke-13. Adityas Priambudi melepaskan tembakan keras kaki kiri, namun masih bisa ditepis kiper Thailand sebelum berujung serangan balik cepat lawan.
Kebuntuan akhirnya pecah saat waktu tersisa 04.13 menit di babak pertama. Berawal dari situasi kick in, Adityas mengirim umpan matang yang disambut dingin oleh Andres Dwi untuk membawa Indonesia unggul 1-0.
Gol tersebut membuat atmosfer pertandingan semakin panas. Thailand yang tersentak langsung meningkatkan intensitas serangan untuk mengejar ketertinggalan.
Penampilan gemilang kiper Angga Ariansyah menjadi tembok kokoh bagi Indonesia. Ia beberapa kali menggagalkan peluang berbahaya yang dibangun cepat oleh pemain Thailand.
Menjelang akhir babak pertama, terjadi momen krusial saat wasit melakukan peninjauan video support.
Insiden yang melibatkan Muhammad Osamanmusa dan Muhammad Sanjaya sempat memicu perdebatan, namun diputuskan bukan pelanggaran.
Namun, tak lama setelah laga dilanjutkan, Thailand mendapatkan second penalty. Itticha Praphaphan yang maju sebagai eksekutor sukses menjalankan tugasnya meski Angga sempat mencoba membaca arah bola.
Skor 1-1 menutup babak pertama dan membuat pertandingan semakin terbuka di paruh kedua. Thailand tampil lebih agresif dengan kombinasi umpan pendek dan tembakan jarak jauh yang terus mengancam.
Di awal babak kedua, tekanan bertubi-tubi dilancarkan Thailand. Dalam tiga menit pertama saja, Angga Ariansyah tercatat melakukan sedikitnya empat penyelamatan penting untuk menjaga asa Indonesia.
Kerja keras kolektif juga ditunjukkan para pemain outfield seperti Dewa Rizki dan rekan-rekan. Mereka dipaksa bertahan lebih dalam dan bekerja ekstra keras untuk meredam serangan lawan.
Petaka datang saat pertandingan menyisakan sembilan menit. Panut Kittipanuwong mencetak gol lewat tembakan keras jarak jauh yang tak mampu dibendung, membawa Thailand berbalik unggul 2-1.
Tertinggal satu gol membuat Indonesia langsung menaikkan tempo permainan. Serangan demi serangan dibangun dengan lebih cepat demi mengejar ketertinggalan.
Beberapa peluang emas sempat tercipta dari tembakan keras pemain Indonesia. Namun, kiper Thailand Theerawat Kaewwilai tampil sigap dan berhasil menggagalkan upaya penyama kedudukan.
Memasuki enam menit akhir, strategi power play mulai diterapkan. Guntur Sulistyo dipercaya mengambil peran sebagai kiper untuk membantu menambah daya gedor di lini serang.
Skema tersebut sempat menghasilkan sejumlah peluang berbahaya. Namun, penyelesaian akhir masih menjadi kendala utama karena timing eksekusi yang belum sempurna.
Meski permainan berjalan sesuai rencana, dewi fortuna belum berpihak pada Indonesia. Sejumlah peluang emas gagal dikonversi menjadi gol penyama kedudukan.
Hingga peluit panjang dibunyikan, skor 2-1 untuk keunggulan Thailand tidak berubah. Hasil ini memastikan Indonesia harus puas mengakhiri turnamen sebagai runner up.
Kegagalan ini memang menyisakan kecewa, namun perjuangan para pemain layak diapresiasi. Mereka telah menunjukkan semangat juang tinggi dan kualitas permainan yang mampu bersaing di level Asia Tenggara.(*)
