Rabu, 24 Juli 2024

Rombak Pisah Pasangan Ganda Putra Skuad Pelatnas Cipayung

Berita Terkait

Ganda putra Kevin Sanjaya Sukamuljo/Rahmat Hidayat saat berlaga pada babak 32 besar Korea Masters 2023 di Gwangju, Korea Selatan, Selasa. (Antara/PBSI)

batampos – Musim kompetisi bulu tangkis 2023 telah berakhir melalui pelaksanaan dua turnamen Federasi Badminton Dunia (BWF) yang digelar secara bersamaan, yaitu Odisha Masters di India dan World Tour Finals di Hangzhou, Tiongkok pada 12-17 Desember.

Beragam catatan dan dinamika pun terjadi selama berlangsungnya serial turnamen yang dimulai sejak pekan pertama Januari, termasuk pada ganda putra yang menjadi salah satu nomor tumpuan Indonesia pada peta persaingan internasional.

Nomor tersebut menjadi perhatian besar sejak lama karena kerap mendulang prestasi dan memiliki tingkat regenerasi yang tinggi.

Mulai dari peringkat atas, juara turnamen elite, hingga jumlah pemain matang yang berlimpah menjadi sisi positif dari sektor yang sempat ditukangi oleh Herry Iman Pierngadi tersebut.

Namun, ketenaran ganda putra skuad Cipayung juga tak lepas dari kontroversi dan tebing terjal yang menjadi dinamika pembinaan di sektor ini selama satu tahun.

Satu tahun sebelumnya, santer kabar pertikaian antara Herry dan Kevin Sanjaya Sukamuljo. Namun, setelah itu, mereka berdamai dan kembali berlatih seperti sedia kala.

Sayangnya, kebersamaan mereka sebagai pelatih dan pemain pada tahun ini tak bermuara ke arah yang tak terduga.

Sekarang, pelatih berjuluk Coach Naga Api itu tak lagi mengarsiteki sektor ganda putra, sedangkan Kevin pun sudah tidak berpasangan dengan Marcus Fernaldi Gideon yang pernah bersama-sama merajai ganda putra dunia.

Terhitung kurang lebih lima bulan berjalan, Herry IP tak lagi melatih ganda putra Pelatnas Cipayung. Herry menceritakan bahwa pada pertengahan 2023, dia berkomunikasi dengan Ketua Harian PP PBSI Alex Tirta yang kemudian menawarinya untuk melatih sektor ganda campuran.

Herry mulanya gundah dengan tawaran tersebut, apalagi dia menjadi aktor kunci dalam kehebatan ganda putra Indonesia sejak secara resmi bergabung dengan sektor tersebut di Pelatnas PBSI pada 1993.

Herry menuturkan bahwa pertimbangan organisasi menunjuk dirinya menjadi kepala pelatih ganda campuran ialah karena rekam jejak dan pengalaman kepelatihannya yang sangat baik.

Melalui Herry, Alex menyampaikan bahwa sektor ganda campuran kini sedang terpuruk dan butuh penanganan dari tangan-tangan dingin agar tak lagi tersisihkan pada persaingan dunia.

Tak butuh waktu lama bagi Herry untuk menerima tawaran tersebut dan memindahkan fokusnya pada Rehan/Lisa dan kawan-kawan. Namun, dia pun meminta pada pengurus agar tak terlalu cepat memberikan target baginya kala mengurus ganda campuran.

Meski sudah kenyang pengalaman melatih selama tiga dasawarsa, melatih ganda campuran adalah hal yang sama sekali baru tak tak pernah terbayangkan oleh Herry sebelumnya.

Hal pertama yang dia ungkap adalah tak mau dibebani target gelar juara paling tidak hingga musim kompetisi 2023 berakhir. Dia masih butuh adaptasi dengan pola latihan yang baru dan membangun chemistry dengan anak-anak asuhnya.

Apalagi, saat kepindahannya, ganda campuran tengah mendapat sorotan ketika Rehan Naufal Kusharanto menjadi bulan-bulanan publik akibat masalah perut buncit.

Kejadian itu dimanfaatkan Herry untuk memberikan evaluasi sekaligus membangun komunikasi dengan atlet-atletnya.

Pisah pasangan

Kabar mengejutkan kembali muncul dari sektor ganda putra, dengan terjadinya dua kali pecah pasangan pada pemain utama Pelatnas Cipayung.

Selepas kepergian Herry, pasangan Kevin/Marcus yang dikenal sebagai “Minions” pun akhirnya bubar.

“Minions” yang sempat menikmati kedigdayaan dengan menjadi peringkat satu dunia selama kurang lebih lima tahun, perlahan mulai tersingkir dari peta kompetisi papan atas akibat dirundung sejumlah masalah.

Kondisi Marcus yang terpaksa menjalani operasi kaki, berlanjut ke pemulihan berbulan-bulan, diduga menjadi pemicu utama retaknya kekompakan “Minions” di lapangan.

Sempat bermain sebentar, “Minions” harus kembali absen karena Marcus lagi-lagi menjalani operasi. Lamanya masa pemulihan yang dijalani Marcus, membuat PBSI merombak pasangan tersebut.

PBSI melihat potensi Kevin untuk dipasangkan dengan pemain pelatnas lainnya yang lebih muda. Akhirnya pada Oktober, PBSI melalui Aryono Miranat yang kini menggantikan peran Herry IP, menyampaikan bahwa Kevin dipasangkan dengan Rahmat Hidayat.

Rahmat aslinya berpasangan dengan Muhammad Rayhan Nur Fadillah dan merupakan ganda putra pelapis pelatnas. Namun, dengan dinamika yang terjadi, kedua ganda putra itu pun bertukar pasangan di pengujung tahun.

Aryono menuturkan bahwa aksi Kevin/Rahmat dan Marcus/Rayhan masih dalam tahap awal sejak penampilan perdana di November dan Desember, dan diharapkan mereka bisa memberikan penampilan lebih baik pada musim 2024.

Aryono pun tak menutup kemungkinan mereka akan dikembalikan sebagai pasangan seperti semula, jika Kevin/Rahmat dan Marcus/Rayhan tak menunjukkan perkembangan memuaskan.

Tak cukup dengan perpisahan “Minions”, perpecahan di sektor ganda putra juga dialami oleh pasangan Pramudya Kusumawardana/Yeremia Erich Yoche Yacob Rambitan.

Yeremia–yang sempat hiatus sekitar 6 bulan akibat cedera parah di 2022–kembali bermain dengan Pramudya tahun ini. Namun, performa mereka tidak sebaik dulu sehingga kerap tersingkir pada babak-babak awal.

Meski Yeremia terus mengalami perbaikan, performa pasangan berjuluk “The Prayer” itu cenderung stagnan. Bahkan, kesolidan mereka pun dipertanyakan saat Pramudya bersikap dingin terhadap Yeremia.

Hingga akhirnya Pramudya pun buka suara dan mengumumkan keluar dari Pelatnas PBSI pada 18 Desember 2023. Melalui pernyataan pers virtual, Pramudya memaparkan sejumlah alasan keluarnya dia dari Asrama Cipayung.

Pebulu tangkis kelahiran 13 Desember 2000 itu memantapkan diri untuk berhenti dari dunia tepok bulu untuk melanjutkan karier studi di Australia.

Pramudya pamit untuk meneruskan studi di Negeri Kanguru dengan sekolah di jurusan Sports Science dan Sports Psychology di Sydney. Dia berharap keputusannya itu bisa membantu olahraga, khususnya bulu tangkis, agar lebih berkembang di Tanah Air.

Selanjutnya, dia juga menyoroti masalah kesehatan mental yang mengganggu sehingga berpengaruh ke dalam kehidupan pribadi dan membuat performanya bersama Yeremia tak stabil.

Alasan terakhir, dia merasa kurang mantap untuk bersaing di ajang Olimpiade. Perhitungan poin menuju Olimpiade Paris 2024 terus berjalan, dan sejauh ini Pramudya/Yeremia masih terlalu jauh peluangnya untuk tampil di ajang bergengsi tersebut.

Pramudya/Yeremia yang memulai debut di The 28th Iran Fajr International Challenge 2019 itu sempat mengoleksi satu medali emas dan satu perak dari SEA Games Vietnam. Tahun berikutnya di edisi SEA Games 2023, Pramudya/Yeremia juga menorehkan prestasi di ajang olahraga terbesar se-Asia Tenggara itu dengan menyabet medali emas.

Dengan raihan prestasi tersebut tidak heran keduanya masih merindukan momen kebersamaan tersebut.

Namun, apa daya mereka harus pisah lebih awal akibat keputusan pensiun dini yang diambil Pramudya. (*)

 

Reporter: Antara

Update