
batampos – Kabar kurang sedap datang dari pelatih fisik Timnas Indonesia, Quentin Jakoba yang baru-baru ini mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari warganet. Sebelumnya, ia ditunjuk oleh PSSI dan akan berperan sebagai performance coach dalam upaya membawa Garuda lolos ke Piala Dunia 2026.
“Bangga menjadi bagian tim ini sebagai performance coach,” tulisnya dalam akun Instagram pada Senin, 13 Januari 2025, dengan menyertakan bendera Indonesia dan foto Patrick Kluivert bersama dua asistennya, Alex Pastoor dan Denny Landzaat.
Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, juga memastikan bahwa akan ada tambahan staf pelatih dalam waktu dekat, termasuk pelatih fisik dan pelatih kiper.
Namun, bukan hanya perannya sebagai pelatih yang menjadi sorotan. Interaksi Quentin di media sosial juga diperhatikan. Usai mengumumkan keterlibatannya di Timnas Indonesia, unggahannya dibanjiri komentar netizen Indonesia. Sayangnya, banyak dari komentar tersebut bernada seksis dan tidak pantas.
Merasa terganggu dengan respons yang tidak profesional itu, Quentin akhirnya memutuskan untuk membatasi kolom komentarnya di Instagram. Langkah ini diambil untuk menjaga profesionalismenya dan menghindari gangguan dari komentar yang tidak relevan dengan pekerjaannya di Timnas Indonesia.
Keputusan ini mendapat dukungan dari sejumlah pihak. Mereka menilai bahwa sebagai seorang pelatih, Quentin seharusnya dihargai atas keahliannya. Ia bukan menjadi sasaran komentar tidak pantas di media sosial.
Dengan kehadiran Quentin dan tim kepelatihan lainnya, harapan besar pun disematkan pada Timnas Indonesia. Mereka berharap agar bisa mencapai level yang lebih tinggi, termasuk mewujudkan impian berlaga di Piala Dunia 2026.
Profil Quentin Jakoba
Quentin Jakoba lahir di Tilburg, Belanda. Ia merupakan mantan pesepak bola profesional. Ia menimba ilmu di akademi Willem II dan Sparta Rotterdam sebelum mencicipi kasta kedua Liga Belanda, Eerste Divisie, bersama FC Eindhoven pada 2008.
Kariernya sebagian besar dihabiskan di level ketiga dan keempat sepak bola Belanda. Ia memperkuat klub seperti Kozakken Boys dan ASWH. Sebagai bek tengah, ia juga pernah membela Timnas Curacao sebanyak sembilan kali, di mana ia pertama kali bekerja sama dengan Patrick Kluivert.
Setelah pensiun pada Juli 2020, Quentin memilih jalur karier yang berbeda dengan menjadi pelatih kebugaran. Ia pertama kali bekerja di mantan klubnya, Kozakken Boys, sebelum menerima tawaran dari Timnas Curacao. Selama tiga tahun, ia menangani kebugaran para pemain di bawah berbagai pelatih. Ini termasuk Patrick Kluivert, Guus Hiddink, dan Remko Bicentini.
Pengalamannya juga mencakup peran sebagai performance coach di NAC Breda pada 2021 serta di Adana Demirspor saat Kluivert menjadi pelatih klub Turki tersebut pada 2023.
Kini, Quentin kembali bekerja sama dengan Kluivert di Timnas Indonesia. Ia diharapkan mampu meningkatkan fisik dan performa para pemain. Ini termasuk Marselino Ferdinan dan rekan-rekannya, agar lebih kompetitif di pentas internasional. (*)
