
batampos – Marcus Rashford, penyerang internasional Inggris yang kini berseragam Barcelona, melontarkan kritik pedas terhadap mantan klubnya, Manchester United. Dalam sebuah wawancara, Rashford menilai Setan Merah terlalu reaksioner dan saat ini berada dalam kondisi ‘no man’s land’ alias tanpa arah yang jelas.
Ia pun menyarankan agar klub memiliki rencana jangka panjang yang konsisten jika ingin kembali berjaya di level tertinggi.
Rashford, yang musim lalu menghabiskan paruh kedua kompetisi sebagai pemain pinjaman di Aston Villa, mengaku bisa melihat kondisi klub lebih objektif setelah meninggalkan Old Trafford.
“Kalau ingin sukses jangka panjang, klub harus punya prinsip yang dipegang teguh. Setiap pelatih atau pemain baru harus selaras atau memberi nilai tambah pada prinsip tersebut,” ujarnya, dikutip dari laporan The Telegraph.
Hubungan Rashford dengan pelatih Ruben Amorim dikabarkan retak tak lama setelah pelatih asal Portugal itu tiba di Manchester United. Situasi itu membuatnya dipinjamkan ke Aston Villa hingga akhir musim 2024-2025.
Musim panas ini, Barcelona datang dengan tawaran pinjaman selama satu musim penuh, disertai opsi pembelian permanen di akhir musim 2025-2026. Kesepakatan itu membuat peluang Rashford kembali mengenakan kostum Manchester United menjadi sangat tipis. Menurut catatan klub, kontribusinya berhenti di 138 gol dan 78 assist dari 426 penampilan resmi.
“Ekspektasinya adalah saya tak akan bermain lagi untuk United,” ucapnya seperti dikutip dari podcast The Rest is Football.
Sorotan terhadap “Budaya Reaksioner” di Old Trafford
Bagi Rashford, salah satu masalah utama Manchester United adalah kebijakan yang terlalu sering berubah. Ia menilai klub tidak memiliki identitas permainan dan strategi yang konsisten. “Kadang rasanya klub hanya lapar untuk menang, lalu mencoba menyesuaikan diri dan merekrut pemain yang cocok dengan sistem pelatih saat itu. Tapi itu sifatnya reaksioner,” katanya.
Rashford menegaskan, pendekatan seperti itu membuat sulit untuk meraih gelar liga.
“Mungkin Anda bisa menang di turnamen piala karena punya pelatih bagus, pemain berkualitas, dan match winner di skuad. Tapi itu bukan karena ada fondasi yang kokoh. Anda tidak berada di sana karena kebetulan,” jelasnya.
Menurut laporan dari The Telegraph, Rashford menilai performa United musim lalu yang finis di peringkat 15 Premier League adalah cerminan jelas dari masalah struktural tersebut.
Transisi yang Tak Pernah Dimulai
Rashford juga mempertanyakan klaim bahwa United sedang berada dalam masa transisi. Baginya, transisi hanya bisa dimulai jika klub membuat rencana jelas dan berkomitmen pada rencana itu.
“Orang bilang kami sudah bertahun-tahun dalam masa transisi. Tapi untuk berada dalam transisi, Anda harus memulainya. Saya rasa transisi itu belum pernah benar-benar dimulai,” ucapnya.
Ia memahami tekanan besar yang datang dari fans, apalagi jika hasil buruk terus terjadi. “Kalau tidak berjalan baik, fans menuntut perubahan. Di situlah pentingnya realistis dengan situasi yang ada,” tambahnya.
Fokus ke Barcelona dan Target Piala Dunia 2026
Kini, Rashford mengalihkan fokusnya untuk berkontribusi di Barcelona. Ia berpeluang melakoni debut La Liga saat timnya menjamu Mallorca pada Sabtu mendatang. Meski kontraknya di Manchester United masih berlaku hingga musim panas 2028, ia menegaskan bahwa prioritasnya saat ini adalah tampil maksimal di Camp Nou.
Tak hanya itu, Rashford juga masih menyimpan ambisi untuk kembali ke skuad Inggris di Piala Dunia 2026.
“Jelas itu sesuatu yang saya inginkan, tapi tidak akan datang begitu saja tanpa kerja keras setiap hari, baik di latihan maupun di lapangan,” tuturnya.
Ia menilai generasi pemain Inggris saat ini sangat berbakat dan punya peluang besar untuk meraih prestasi besar.
“Akan mengecewakan jika kami tidak melakukan sesuatu yang spesial. Beberapa tahun terakhir, langkah selanjutnya adalah memenangkan turnamen besar,” ujarnya, dikutip dari The Telegraph.
Kritik Tajam dengan Pesan Tersirat
Kritik Rashford terhadap Manchester United sebenarnya menyiratkan rasa frustrasi yang mendalam. Ia seolah mengirim pesan kepada manajemen klub bahwa era kejayaan tidak akan kembali hanya dengan pergantian pelatih atau pembelian pemain mahal.
Dalam pandangannya, fondasi klub harus dibangun dengan prinsip yang konsisten, bukan kebijakan tambal sulam. “Jika arah selalu berubah, jangan berharap bisa menjuarai liga,” tegasnya.
Komentar Rashford ini menambah panjang daftar kritik terhadap manajemen Manchester United dalam beberapa tahun terakhir. Klub yang pernah mendominasi Premier League di era Sir Alex Ferguson itu kini kesulitan menemukan stabilitas dan identitas permainan.
Dengan hasil buruk musim lalu dan pergantian pelatih yang kerap terjadi, jalan menuju kebangkitan tampak terjal. Namun, sebagaimana disampaikan Rashford, semua bisa dimulai jika klub berani membuat rencana jangka panjang dan bersabar dalam menjalankannya, meski itu berarti harus melewati periode sulit.
Jika tidak, Manchester United akan terus berada di “no man’s land” seperti yang dikatakan mantan bintang mereka sendiri. (*)
