Jumat, 23 Januari 2026

Kevin De Bruyne Hampir Gabung Liverpool sebelum Resmi Hijrah ke Napoli

Berita Terkait

Kevin De Bruyne resmi menjadi pemain Napoli usai meneken kontrak selama dua tahun. (Instagram SSC Napoli)

batampos – Nama Kevin De Bruyne mungkin sudah terlalu identik dengan Manchester City. Tapi semua cerita hebat suatu saat harus berakhir. Setelah 10 tahun menjadi otak lini tengah The Citizens, sang maestro asal Belgia akhirnya resmi meninggalkan Etihad dan memulai petualangan baru bersama juara Serie A, Napoli.

Yang mengejutkan, sebelum kepindahan ini terwujud, De Bruyne sempat membuka komunikasi dengan Liverpool! Klub rival berat Man City itu disebut jadi salah satu opsi sang playmaker sebelum ia akhirnya menandatangani kontrak dua tahun bersama Napoli.

Kevin De Bruyne akan resmi hengkang dari Manchester City pada akhir Juni 2025, saat kontraknya berakhir. Selama satu dekade mengenakan seragam biru langit, ia sudah menorehkan warisan luar biasa: 108 gol, 177 assist, 422 penampilan, dan 19 trofi, termasuk 6 gelar Premier League dan 1 Liga Champions.

Namun, masalah kebugaran yang berulang membuat manajemen City ragu memperpanjang kontraknya. Meski sang pemain ingin bertahan, tak ada proposal baru yang datang. Maka, De Bruyne pun membuka pintu untuk tantangan baru.

Napoli Menangkap Peluang, Liverpool Hanya Sekilas Bayangan

Hampir dua pekan lalu, Napoli mengumumkan kedatangan Kevin De Bruyne secara resmi. Ia menandatangani kontrak dua tahun dengan opsi perpanjangan satu musim. Di usianya yang akan menginjak 34 tahun, De Bruyne menolak pensiun dini atau pindah ke liga yang lebih “santai” seperti MLS atau Liga Arab Saudi.

Faktanya, De Bruyne sempat mempertimbangkan bergabung dengan Chicago Fire (MLS) atau tawaran dari Timur Tengah. Bahkan Juventus dikabarkan sempat mengajukan ketertarikan informal. Tapi akhirnya, pelatih Antonio Conte berhasil meyakinkan sang pemain bahwa Napoli adalah tempat terbaik untuk tetap bersaing di level tertinggi—terutama dengan peluang tampil di Liga Champions musim depan.

Menariknya, laporan dari The Athletic menyebutkan bahwa De Bruyne juga sempat menjalin komunikasi singkat dengan Liverpool. Sebuah “short conversation”, begitu kata sumber.

Namun pembicaraan tersebut tak berkembang menjadi negosiasi serius. Pasalnya, Liverpool saat itu sedang fokus memburu Florian Wirtz, gelandang muda yang disebut-sebut sebagai “penerus De Bruyne” di masa depan.

Fakta Mengejutkan—De Bruyne Ternyata Fans Liverpool!

Meski hanya sebatas komunikasi ringan, fakta bahwa De Bruyne sempat berbicara dengan Liverpool memancing banyak reaksi. Apalagi ia pernah mengaku secara terbuka sebagai pendukung The Reds saat masa kecil.

Dalam wawancara dengan Match of the Day Magazine pada 2019, De Bruyne mengungkapkan, “Saya adalah fans Liverpool. Keluarga saya yang tinggal di Inggris semuanya pendukung Liverpool, jadi saya juga ikut.”

Ia juga menyebut idolanya saat itu adalah Michael Owen, karena postur tubuh dan gaya bermainnya yang cepat seperti dirinya.

Namun, romantisme masa kecil tak cukup kuat untuk mengubah keputusan besar. Liverpool yang saat ini bertabur gelandang muda dan kompetitif di Premier League, tak menawarkan peran sentral yang diinginkan De Bruyne. Ia tak ingin menjadi pelapis atau pemain rotasi.

Era Baru, Bab Baru—De Bruyne dan Ambisi Terakhir

Akhirnya, Napoli menjadi pilihan realistis dan ideal. Di bawah Antonio Conte, klub ini sedang membangun ulang kekuatan mereka pasca juara Serie A. Kehadiran De Bruyne diharapkan membawa pengalaman, kepemimpinan, dan tentu saja kreativitas di lini tengah.

Ia juga akan reuni dengan rekan senegaranya, Romelu Lukaku, yang terlebih dulu bergabung dan menjadi andalan di lini depan Napoli. Keduanya diharapkan bisa membentuk duet mematikan ala timnas Belgia—namun kali ini dengan seragam biru langit khas Napoli.

Sementara itu, Liverpool tak menyesali keputusan mereka. Mereka berhasil memenangkan perebutan Florian Wirtz dari Bayer Leverkusen, meski harus merogoh kocek dalam: 100 juta Pounds dengan potensi naik menjadi 116 juta Pounds—transfer termahal dalam sejarah Inggris.

Bagi De Bruyne, ini bukan sekadar pindah klub. Ini adalah babak terakhir dalam karier emasnya, dan ia memilih jalan yang menantang: tetap bersaing di Eropa, tetap menjadi pusat permainan, dan mungkin—menulis bab terakhir dengan kejayaan di tanah Italia. (*)

Update