Sabtu, 20 Agustus 2022

Kali Pertama dalam 45 Tahun, Tim Bulutangkis Gagal ke Final

Berita Terkait

Bobby Setiabudi gagal meraih kemenangan dalam partai penentuan babak semifinal beregu putra SEA Games 2021 melawan Thailand. (Humas PP PBSI)

batampos – Tim beregu putra Indonesia mencatat sejarah pedih. Untuk kali pertama sejak 1977 alias 45 tahun, Indonesia tidak mampu melangkah ke final SEA Games. Indonesia juga gagal memperpanjang rekor enam emas secara beruntun.

Pada semifinal SEA Games 2021 di Bac Giang Gymnasium, Hanoi kemarin (17/5), Indonesia kalah dengan skor tipis 2-3 atas Thailand. Indonesia hanya berhasil meraup poin dari dua ganda putra. Sedangkan di tiga tunggal putra, Indonesia selalu kehilangan angka.

Tiga tunggal putra Indonesia, Chico Aura Dwi Wardoyo, Christian Adinata, Bobby Setiabudi tak mampu menyumbang poin di laga ini.

Sementara Pramudya Kusumawardana/Yeremia Erich Yoche Yacob Rambitan dan Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin dari ganda putra bermain baik dan memenangkan pertandingan.

“Tadi saya lihat untuk ganda putra sudah oke. Hanya sedikit saja evaluasinya yaitu tidak boleh terlalu rileks kalau sudah unggul. Ini bahaya kalau sampai tersusul jadi harus fokus dari awal sampai akhir,” ucap Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI Rionny Mainaky dilansir JawaPos.com.

“Untuk tunggal putra, saya melihat tekanannya terlalu berat jadi mainnya tidak bisa maksimal. Serba ragu-ragu mau main apa, terlihat sekali di Chico dan Christian,” imbuh Rionny.

“Untuk Bobby, tadi start sudah bagus tapi ketika lawan naik sedikit, tekanan berbalik. Nah itu rasa takutnya tidak hilang-hilang hingga akhir, jadi dia tidak bisa keluar dari tekanan,” kata Rionny lagi.

Pada partai penentuan, saat kedudukan sama kuat 2-2, Bobby memang bermain mengecewakan melawan tunggal ketiga Thailand Panitchaphon Teeraratsakul.

Di awal game pertama, Bobby unggul 9-2. Lalu di game kedua, Bobby berhasil memimpin 5-0 dan 17-14. Tetapi pada akhirnya, Bobby kalah dalam dua game langsung dengan skor 18-21 dan 19-21.

Rionny juga menekankan kepada para pemain agar terus belajar menyelesaikan sendiri masalah di lapangan.

“Tadi saya sudah briefing mereka, saya tekankan untuk terus belajar mengatasi masalah di lapangan. Dimulainya harus sejak dari latihan, bagaimana mencari solusi ketika tidak enak. Jadilah psikolog sendiri karena saat pertandingan hanya mereka yang bisa menyelesaikannya sendiri, kita yang di luar tidak bisa bantu banyak,” ucap Rionny.

“Ini masih ada nomor perorangan, saya ingin mereka mencoba lagi. Menerapkan apa yang saya, pelatih, atau psikolog sampaikan. Harus lebih berani lagi, harus lebih semangat lagi. Saya mau lihat penampilan yang mati-matian,” tambahnya.

Di sisi lain, pelatih tunggal putra Harry Hartono juga mengevaluasi penampilan anak asuhnya. Harry menyoroti faktor kesiapan mental sebagai kunci kemenangan dalam turnamen beregu.

“Di beregu ini memang dibutuhkan pikiran dan mental yang benar-benar siap. Secara peringkat, memang tunggal pertama dan kedua kita masih di bawah mereka,” kata Harry.

“Ada peluang di tunggal ketiga bisa kita ambil. Tapi kembali lagi tidak mudah untuk tampil di partai penentuan. Dan saya melihat Bobby sangat tegang di pertandingan tadi, sebaliknya tunggal Thailand lebih siap. Padahal secara teknis Bobby masih di atas lawannya,” tambah Harry.

Tak ingin larut dalam kekecewaan, Harry mengingatkan bahwa masih ada nomor perorangan yang akan dipertandingkan. Dia berharap para pemain mampu bangkit.

“Jarak dari beregu dan perorangan kan sangat singkat, tidak ada break dulu jadi yang terpenting sekarang bagaimana mengembalikan kepercayaan diri anak-anak,” jelas Harry.

“Mereka harus fight back. Walau hasil di beregu kurang memuaskan tapi mereka juga punya tanggung jawab di nomor perorangan,” imbuhnya. (*)

 

Reporter: JPGroup

Update