
batampos – Ayah juara dunia MotoGP dua kali, Francesco -Pecco- Bagnaia, mengungkapkan bahwa putranya sempat mengalami depresi pada awal karier grand prix sebelum mendapatkan dukungan dari Valentino Rossi.
Dilansir dari laman Crash pada Kamis (14/8), Pecco memulai debut grand prix pada 2013 bersama Tim Italia dengan FTR Honda, namun gagal meraih poin sepanjang musim.
Pada 2014, Bagnaia bergabung dengan Akademi VR46 yang didirikan Rossi. Ia kemudian membela tim VR46 di Moto3 dengan KTM sebelum pindah ke Mahindra pada 2015.
Setelah memperkuat skuad Aspar, ia kembali ke tim VR46 di Moto2 pada 2017 dan berhasil meraih gelar juara dunia pada 2018.
Pietro Bagnaia, ayah Pecco, mengungkapkan bahwa pengalaman bersama Tim Italia hampir menggagalkan karier putranya.
Ayah Pecco menyebut tim tersebut tidak memberikan pembinaan yang memadai dan bahkan mengancam Pecco tidak akan balapan lagi jika mengikuti uji coba dengan Mahindra. Meski demikian, Pietro tetap mendukung langkah putranya dan menandatangani pelepasan kontrak.
Langkah tersebut bertepatan dengan awal pembentukan Akademi VR46. Menurut Pietro, ajakan Uccio Salucci untuk bergabung dalam proyek VR46 membuat Pecco kembali bersemangat.
Perubahan dari kondisi depresi menjadi antusias menjadi titik balik karier sang pembalap, yang kemudian berkembang bersama tim Sky VR46.
Akademi VR46 yang berdiri pada 2014 telah melahirkan sejumlah pembalap sukses. Selain Bagnaia, Franco Morbidelli menjadi juara dunia Moto2 2017 dan pemenang balapan MotoGP pada 2020, sementara Luca Marini dan Marco Bezzecchi juga berhasil menembus kelas utama. Tim VR46 sendiri memulai kiprahnya di MotoGP pada 2022 sebagai tim satelit Ducati. (*)
