
batampos – Persiapan Amerika Serikat sebagai tuan rumah Piala Dunia 2026 berada di ambang krisis. Sejumlah pejabat kota tuan rumah memberikan peringatan keras kepada Kongres terkait ancaman keamanan yang membayangi turnamen sepak bola terbesar di dunia itu.
Dilansir dari Daily Mail (25/2), para pemimpin lokal dan saksi ahli mendesak Komite Keamanan Dalam Negeri DPR untuk segera mencairkan dana dari Federal Emergency Management Administration (FEMA). Dana itu sebenarnya telah dialokasikan untuk pengamanan di 11 kota Amerika yang menjadi lokasi pertandingan, tetapi hingga saat ini masih tertahan akibat kebuntuan politik di Washington.
Kekhawatiran utama para pejabat berfokus pada ketidaksiapan infrastruktur keamanan dalam menghadapi ancaman. Kesaksian dalam persidangan mengungkapkan bahwa instansi lokal gagal melakukan koordinasi dengan pemerintah federal dalam melindungi stadion, transportasi, hotel, hingga lokasi latihan tim yang akan bertanding.
Selain masalah koordinasi, muncul berbagai ancaman baru yang terus berkembang. Para saksi dan anggota komite menyoroti ancaman penggunaan drone, lonjakan kekerasan kartel di Meksiko yang berbatasan langsung dengan Amerika Serikat, hingga isu perdagangan orang.
Situasi semakin pelik akibat adanya sentimen negatif terhadap agen ICE di beberapa wilayah, menyusul insiden penembakan fatal dua warga sipil di Minneapolis yang memicu pengawasan ketat terhadap Departemen Keamanan Dalam Negeri.
Pembekuan dana itu terjadi di tengah ketegangan politik menjelang pidato State of the Union Presiden Trump. Padahal, pemerintah federal sebelumnya telah mengalokasikan sekitar 625 juta USD (sekitar Rp 10,4 triliun) untuk meningkatkan kesiapan keamanan serta 250 juta USD (sekitar RP 4,1 triliun) khusus untuk mitigasi ancaman drone.
Kondisi di lapangan menunjukkan urgensi yang luar biasa. Presiden National Fusion Center Association (NFCA) Mike Sena menyebut bahwa jika diskusi ini dilakukan dua tahun lalu, Amerika Serikat mungkin berada dalam kondisi lebih baik. Namun, dengan jadwal yang sudah sangat dekat, kemampuan keamanan saat ini dinilai masih jauh dari standar yang dibutuhkan.
Tekanan paling nyata datang dari kota-kota penyelenggara. COO Komite Tuan Rumah Piala Dunia Miami Ray Martinez menegaskan bahwa jika dana federal sebesar 70 juta USD (sekitar Rp 1.1 triliun) yang mereka ajukan tidak cair pada akhir Maret, mereka akan mulai membatalkan rencana acara.
”Kami hanya berjarak 107 hari dari turnamen, tetapi lebih penting lagi, kami hanya punya waktu sekitar 70 hari sebelum mulai membangun Fan Fest,” ujar Martinez.
Ray Martinez menambahkan bahwa tanpa uang tersebut, koordinasi pengamanan akan menjadi bencana bagi kota mereka.
Langkah serupa diambil pejabat di Foxborough, Massachusetts. Mereka membutuhkan dana hampir 8 juta USD (sekitar Rp 134 miliar) untuk pengamanan di Stadion Gillette. Jika dana tersebut tidak segera diterima, mereka mengancam akan menarik diri dari kewajiban menyelenggarakan tujuh pertandingan yang telah dijadwalkan.
Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda berakhirnya penutupan sebagian pemerintahan (partial shutdown) yang menghambat aliran dana itu. Fokus pemerintah yang terpecah antara isu nasional dan persiapan acara internasional itu menempatkan reputasi Amerika Serikat sebagai penyelenggara acara olahraga global dalam risiko besar.
Tanpa langkah cepat dari Gedung Putih dan Kongres untuk mencairkan anggaran FEMA, turnamen yang seharusnya menjadi pesta olahraga dunia itu terancam kehilangan kemeriahannya atau yang lebih buruk, berpotensi mengorbankan keselamatan ribuan nyawa penggemar yang hadir. (*)
