
batampos – Arsenal berhasil mencuri tiga poin krusial di Old Trafford usai mengalahkan Manchester United dengan skor tipis 1-0 pada laga pembuka Liga Inggris musim 2025/2026. Gol semata wayang lahir dari kepala Riccardo Calafiori memanfaatkan skema bola mati, mempertegas reputasi The Gunners sebagai tim yang lihai mengoptimalkan set piece.
Pertandingan ini tidak hanya menjadi ajang pembuktian bagi Arsenal yang masih di bawah arahan Mikel Arteta, tetapi juga momentum bagi Manchester United yang kini dinakhodai Ruben Amorim untuk memperlihatkan wajah baru mereka. Namun, hasil akhir justru membuat kubu Setan Merah harus menelan pil pahit di kandang sendiri.
Arsenal tampil dengan determinasi tinggi sejak menit awal. Hanya butuh 13 menit bagi mereka untuk membuka keunggulan. Declan Rice mengirimkan umpan sudut yang gagal diantisipasi dengan baik oleh kiper Manchester United, Altay Bayindir.
Bola liar mengarah ke tiang jauh, dan Calafiori tanpa kesulitan menyundul bola ke gawang yang sudah terbuka. Menurut laporan dari Sports Mole, Bayindir terlihat ragu mengambil keputusan. Tangan yang hanya sekadar menepis membuat bola jatuh ke posisi rawan.
“Kesalahan kecil di lini belakang langsung dimanfaatkan Arsenal, sesuatu yang kerap menjadi senjata mereka sejak musim lalu,” tulis media tersebut.
Gol cepat ini membuat Old Trafford sedikit terdiam. Akan tetapi, United tak tinggal diam.
Mereka mencoba bangkit melalui variasi serangan yang dibangun dua rekrutan anyar, Bryan Mbeumo dan Matheus Cunha. Keduanya bergantian mengacak-acak pertahanan Arsenal dengan pergerakan lincah, meski penyelesaian akhir masih belum menemui sasaran.
United Mendominasi tapi Mandul
Meski tertinggal, statistik berbicara lain. Manchester United justru unggul penguasaan bola 61 persen berbanding 39 persen milik Arsenal. Mereka juga melepaskan 22 tembakan, dengan tujuh di antaranya mengarah tepat ke gawang.
Sayangnya, semua upaya itu kandas di tangan kiper Arsenal, David Raya. Raya benar-benar jadi tembok kokoh.
Dia mencatat tujuh penyelamatan gemilang, termasuk dua momen penting saat menepis tendangan keras Cunha dan sepakan terarah dari Mbeumo. Media Inggris menyebut performanya sebagai kunci kemenangan Arsenal.
“Raya mungkin tidak terlalu sibuk, tetapi setiap kali dibutuhkan, dia hadir dengan refleks luar biasa,” tulis laporan tersebut.
United juga sempat mendapatkan momentum ketika Benjamin Sesko, striker anyar lainnya, masuk pada babak kedua. Namun, minimnya ruang tembak membuat peluang emas sulit tercipta. Pertahanan Arsenal yang sempat goyah di awal akhirnya kembali solid dengan kedisiplinan lini belakang.
Arsenal Masih Tergantung Set Piece
Meski menang, penampilan Arsenal sebenarnya masih jauh dari kata sempurna. The Gunners kesulitan menciptakan peluang dari permainan terbuka. Dari sembilan tembakan yang dilepaskan, hanya tiga yang tepat sasaran, termasuk gol Calafiori yang berasal dari situasi bola mati.
Laporan dari Sports Mole menegaskan bahwa kelemahan itu bisa menjadi pekerjaan rumah besar bagi Mikel Arteta.
“Arsenal tampak kurang meyakinkan ketika harus menembus pertahanan lawan. Mereka kembali harus mengandalkan bola mati untuk mencetak gol,” demikian disebutkan.
Kritik ini cukup beralasan. Arsenal memang punya reputasi kuat dalam mengoptimalkan set-piece sejak musim lalu. Kehadiran spesialis bola mati seperti Declan Rice dan Gabriel Martinelli membuat mereka bisa mencetak gol meski dominasi permainan tidak selalu berpihak.
Jika ada satu nama yang pantas disebut sebagai pahlawan Arsenal, maka itu adalah David Raya. Kiper asal Spanyol tersebut tampil dengan ketenangan luar biasa. Dia tak hanya sigap menepis bola, tetapi juga aktif mengatur lini belakang.
Dalam wawancara usai laga, Arteta memuji peran penting kipernya. Meski tidak dikutip langsung, laporan dari Sports Mole menyebutkan bahwa Arteta menilai keberanian Raya dalam menghadapi bola-bola silang membuat Arsenal bisa tetap menjaga keunggulan.
Hal ini berbanding terbalik dengan kiper United, Altay Bayindir, yang justru melakukan blunder saat gol terjadi. Raya pun didapuk sebagai Man of the Match. Dengan catatan tujuh penyelamatan penting, dia membuktikan bahwa keputusannya meninggalkan Brentford demi bersaing di Arsenal bukanlah langkah sia-sia.
Manchester United Butuh Adaptasi Ruben Amorim
Bagi Ruben Amorim, debut di Liga Inggris bersama Manchester United harus berakhir dengan kekecewaan. Namun, ada sinyal positif dari permainan timnya.
Serangan United terlihat lebih variatif dengan kehadiran Mbeumo, Cunha, dan Sesko. Mereka hanya butuh waktu untuk mengasah chemistry agar lebih efektif di depan gawang.
“Jika trio ini bisa segera menemukan ketajaman, United bisa jadi ancaman serius di papan atas,” tulis laporan media Inggris.
Amorim sendiri dikenal sebagai pelatih dengan filosofi menyerang, dan laga kontra Arsenal ini menjadi gambaran awal proyek barunya di Old Trafford. Namun, kelemahan utama yang terlihat adalah pertahanan set-piece. United harus segera membenahi koordinasi bola mati jika tak ingin kembali kebobolan dengan cara yang sama.
Manchester United kini harus cepat bangkit. Pekan depan, mereka akan melawat ke Craven Cottage untuk menghadapi Fulham. Laga ini menjadi kesempatan bagi Amorim untuk meraih kemenangan perdananya.
Sementara itu, Arsenal akan menjamu Leeds United sebelum menghadapi Liverpool di Anfield, laga yang bisa langsung memengaruhi persaingan gelar musim ini.
Kemenangan tipis 1-0 di Old Trafford memberi awal manis bagi Arsenal di Liga Inggris musim 2025/2026. Meski belum tampil meyakinkan, tiga poin berharga tetap diamankan.
Bagi Manchester United, kekalahan ini harus dijadikan bahan evaluasi. Dominasi permainan belum cukup tanpa penyelesaian akhir yang efektif. Adaptasi bersama Ruben Amorim masih membutuhkan waktu, namun sinyal positif sudah terlihat dari permainan agresif para pemain barunya.
Pertarungan baru saja dimulai. Liga Inggris musim ini menjanjikan persaingan ketat, dan laga di Old Trafford menjadi bukti bahwa setiap detail kecil bisa menjadi pembeda. Arsenal pulang dengan senyum, sementara United harus bersabar menunggu momentum kebangkitan. (*)
