Jumat, 26 Juni 2026

FIFA Tak Bentangkan Bendera Arab Saudi dan Irak di Lapangan Piala Dunia 2026, Ini Alasannya

Berita Terkait

Petugas membawa bendera Arab Saudi dalam posisi tetap terangkat saat seremoni pra-pertandingan Piala Dunia 2026 melawan Spanyol. Sumber gambar: x.com/bettitude.

batampos – FIFA menerapkan pengecualian dalam seremoni pra-pertandingan Piala Dunia 2026 bagi dua negara peserta, yakni Arab Saudi dan Irak.

Berbeda dengan bendera negara lain yang dibentangkan di atas lapangan, bendera kedua negara tetap dipegang oleh petugas selama prosesi berlangsung.

Kebijakan tersebut diterapkan pada seluruh pertandingan yang melibatkan Arab Saudi maupun Irak di ajang Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Dalam format seremoni yang diperkenalkan FIFA, bendera berukuran besar dari masing-masing negara biasanya dibentangkan di atas rumput lapangan saat para pemain berbaris menjelang lagu kebangsaan. Namun, prosedur itu tidak diberlakukan untuk Arab Saudi dan Irak.

Alasannya berkaitan dengan isi kedua bendera tersebut. Bendera Arab Saudi memuat syahadat, yakni kalimat pengakuan keesaan Allah dan kerasulan Nabi Muhammad SAW. Sementara bendera Irak memuat tulisan “Allahu Akbar” yang berarti “Allah Maha Besar”.

Dalam ajaran Islam, tulisan yang mengandung nama Allah maupun kalimat suci dijaga kehormatannya dan tidak semestinya diletakkan di tanah atau di tempat yang berpotensi diinjak. Karena itu, selama seremoni petugas membawa kedua bendera dalam posisi tetap terangkat.

Juru bicara FIFA mengatakan penyesuaian tersebut dilakukan setelah berkoordinasi dengan tim-tim peserta untuk mengakomodasi permintaan yang dinilai wajar terkait tata cara seremoni.

“Dalam pelaksanaan seremoni, FIFA bekerja sama secara erat dengan tim-tim peserta untuk mengakomodasi permintaan yang wajar terkait penyajian dan tata acara,” ujar juru bicara FIFA, dikutip dari Reuters, Jumat (26/6).

Menurut FIFA, perubahan tersebut merupakan bagian dari penyempurnaan seremoni pembukaan Piala Dunia 2026 yang lebih berorientasi pada pengalaman suporter.

Organisasi itu juga menegaskan bahwa setiap penyesuaian dilakukan melalui komunikasi dengan federasi peserta agar tetap menghormati latar belakang budaya dan agama masing-masing negara.

Kebijakan ini pun menarik perhatian karena dinilai menjadi contoh bagaimana penyelenggara ajang olahraga internasional berupaya mengakomodasi keberagaman budaya dan keyakinan tanpa mengurangi makna maupun kemeriahan seremoni pertandingan. (*)

Update