Senin, 8 Juni 2026

Lalui Pertandingan 5 Set, Zverev Akhir Meraih Gelar Grand Slam Pertamanya

Berita Terkait

Alexander Zverev memeluk trofi setelah memenangkan pertandingan final tunggal putra melawan Flavio Cobolli dari Italia pada turnamen tenis French Open di Paris, Minggu, 7 Juni 2026. (Foto: ATP)

batampos – Alexander Zverev akhirnya memenangi gelar Grand Slam pertamanya di Roland Garros. Gelar ini melengkapi raihannya sebagai juara dua kali ATP Finals, tujuh kali juara ATP Masters 1000, dan peraih medali emas Olimpiade.

“Pertama-tama, saya tidak percaya bahwa saya menang. Lalu saya melihat tribun penonton, dan mereka semua merayakan kemenangan,” kata Zverev setelah meraih kemenangan, dikutip dari ATP, Senin (8/6).

“Saat itulah saya menyadari bahwa saya telah menang. Terutama melihat ayah saya mengangkat kedua tangannya, saat itulah saya menyadari, ‘Oke, saya menang’.”

Zverev hampir meraih gelar Grand Slam pada 2020 di US Open, di mana ia unggul dua set dan satu break atas Dominic Thiem sebelum kalah dalam lima set.

Dua kekalahan final Grand Slam lainnya menyusul, membuat petenis Jerman itu masih mencari momen besar yang selama ini luput darinya.

Momen petenis berusia 29 tahun itu akhirnya tiba di Roland Garros, di mana ia mengalahkan Flavio Cobolli untuk memenangi gelar Grand Slam pertamanya.

“Kemudian ketika saya tergeletak di lapangan, semua emosi keluar karena lapangan ini sangat, sangat istimewa bagi saya, baik secara positif maupun negatif. Saya pernah mengalami beberapa momen terberat dalam karier tenis saya di sini,” ujar Zverev.

“Saya pernah terbaring di lapangan ini dengan cedera yang saya tidak tahu apakah saya akan pulih. Saya kalah di final Grand Slam di sini. Semua kenangan itu bagi saya, tidak terhapus. Kenangan itu masih ada, tetapi kemenangan ini akan mengalahkan semua kemenangan lainnya.”

Bagi seseorang yang telah bertahun-tahun mengejar momen ini, Zverev akan selalu menyimpan kenangan itu.

Bukan hanya sebagai kenangan bahagia, tetapi juga sebagai pendorong kepercayaan diri dan pengingat tentang apa yang dapat dicapai berkat ketekunan.

Petenis No.3 dunia itu akhirnya ia memenangi trofi yang telah lama ia kejar.

“Itu terjadi pada saya sangat awal di turnamen Masters 1000 karena saya memenangi satu turnamen saat berusia 20 tahun. Saya telah memenangi banyak turnamen Masters 1000 setelah itu, dan untuk turnamen utama butuh waktu lebih lama,” kata Zverev.

“Sekarang, apa pun yang terjadi, saya akan selalu menjadi juara Grand Slam, dan tidak ada yang bisa mengambilnya dari saya.”

Sambil merenungkan kemenangan terbesar dalam kariernya sejauh ini, Zverev memuji timnya atas peran mereka dalam pencapaian tersebut.

Petenis Jerman itu mengatakan dukungan mereka sangat penting sepanjang perjalanannya. Ayahnya, Alexander Zverev Sr., sebagai pelatihnya dan saudara laki-lakinya, mantan petenis peringkat 25 dunia Mischa Zverev, juga memainkan peran kunci sebagai bagian dari tim.

“Dalam skenario saya, ini benar-benar upaya keluarga dan upaya tim. Karena saya sudah memiliki tim yang sama selama setidaknya 12 tahun, dengan pelatih fisik yang sama, bahkan pelatih yang lebih lama lagi,” ujar Zverev.

“Saya pikir semua orang pantas mendapatkan trofi ini secara setara.”

Zverev mengalahkan Cobolli, dengan skor 6-1, 4-6, 6-4, 6-7(5), 6-1 untuk meraih gelar Grand Slam pertamanya di Paris.

Dalam pertandingan yang menegangkan di Lapangan Philippe-Chatrier, Zverev tampil lebih stabil di set pertama dan ketiga sebelum menunjukkan ketahanan yang luar biasa di set terakhir yang berlangsung berat sebelah.

Setelah Cobolli berjuang keras untuk memenangi tie-break set keempat yang dramatis dengan pukulan forehand yang mematikan, Zverev menolak untuk membiarkan kesempatan itu lepas begitu saja.

Setelah hampir menang di set keempat, Zverev bangkit dan mendominasi set kelima untuk mengamankan kemenangan yang diraih dengan susah payah selama empat jam 16 menit. (*)

ReporterAntara

Update