
batampos – Arsenal melewatkan peluang emas untuk kembali menjauh enam poin di puncak klasemen Premier League. Hasil imbang 1-1 di markas Brentford membuat jarak dengan Manchester City kembali menipis, tepat saat persaingan gelar memasuki fase paling menegangkan musim ini.
Datang dengan tekanan setelah kemenangan Manchester City atas Fulham di tengah pekan, tim asuhan Mikel Arteta tahu bahwa tiga poin adalah harga mati. Namun, menghadapi Brentford yang hanya dua kali kalah di kandang musim ini jelas bukan tugas ringan.
Laga ini bukan soal dominasi total, melainkan tentang struktur permainan, kesabaran, dan momen-momen krusial yang mengubah arah pertandingan.
Tempo Lambat, Arsenal Kehilangan Ritme
Melansir Eplindex, babak pertama berjalan jauh dari skenario ideal bagi Arsenal. Brentford tampil disiplin, menutup ruang di lini tengah dan memaksa Arsenal melebar. Aliran bola yang biasanya tajam dan progresif terlihat tersendat.
Peluang terbaik sebelum turun minum datang dari situasi bola mati. Gabriel Magalhães berhasil menyambut tendangan bebas, tetapi sundulannya belum tepat sasaran.
Arteta memberi kesempatan kepada Eberechi Eze untuk menjadi starter liga pertamanya sejak Desember, namun gelandang serang itu kesulitan menembus rapatnya pertahanan tuan rumah dan akhirnya digantikan Martin Ødegaard saat jeda.
Brentford menunjukkan organisasi yang rapi: garis pertahanan kompak, pressing terukur, dan kemampuan membaca jalur umpan membuat Arsenal kesulitan membangun serangan bersih.
Madueke Buka Harapan
Kebuntuan akhirnya pecah pada menit ke-61. Piero Hincapié mengirim umpan silang akurat dari sisi lapangan, dan Noni Madueke menyambutnya dengan sundulan terarah ke sudut jauh gawang Caoimhín Kelleher.
Gol itu terasa seperti momentum penentu. Arsenal tampak telah melewati ujian sulit dan berada di jalur yang tepat untuk mengamankan tiga poin penting dalam perburuan gelar.
Arteta mencoba mengunci pertandingan dengan memasukkan Bukayo Saka, Gabriel Martinelli, dan Riccardo Calafiori guna menambah energi sekaligus menjaga keseimbangan.
Bola Mati Jadi Senjata Brentford
Namun, Brentford punya cerita lain. Sepuluh menit setelah tertinggal, mereka kembali menunjukkan betapa berbahayanya situasi bola mati.
Lemparan jauh Michael Kayode menciptakan kemelut di kotak penalti, dan Keane Lewis-Potter paling sigap menyundul bola dari jarak dekat untuk menyamakan kedudukan.
Gol tersebut menegaskan reputasi Brentford sebagai salah satu tim paling efektif dalam skema bola mati bahkan menyaingi Arsenal yang selama ini dikenal kuat dalam aspek tersebut.
Di sisa pertandingan, kedua tim sama-sama memiliki peluang untuk menang. Igor Thiago digagalkan tekel krusial Cristhian Mosquera, sementara Martinelli memaksa Kelleher melakukan penyelamatan penting di masa tambahan waktu.
Arteta kemudian merefleksikan fase akhir laga dengan jujur, mengatakan, “Arsenal membiarkan permainan menjadi kacau.”
Brentford dan Mimpi Kompetisi Eropa
Penampilan Brentford sekali lagi menunjukkan mengapa mereka layak berada di posisi ketujuh dan terus mengintip zona Liga Champions. Tim asuhan Keith Andrews memadukan ketangguhan defensif dengan transisi cepat yang terorganisir.
Lewis-Potter dan Dango Ouattara menghadirkan ancaman melalui kecepatan, sementara kehadiran fisik Igor Thiago terus merepotkan lini belakang Arsenal. Bahkan di menit-menit akhir, Brentford terlihat sebagai tim yang lebih berpeluang mencuri kemenangan.
Tekanan agresif mereka memancing kesalahan, mengangkat atmosfer stadion, dan mendorong momentum hingga peluit akhir. Melihat jalannya pertandingan, satu poin terasa adil meski kemenangan untuk tuan rumah pun bukan hasil yang mustahil.
Bagi Arsenal, hasil ini bukan sekadar kehilangan dua poin. Ini adalah pengingat bahwa setiap detail kini menentukan dalam perebutan gelar. Dan bagi Manchester City, jarak yang semakin dekat adalah sinyal bahwa perburuan masih sepenuhnya terbuka. (*)
