Selasa, 3 Februari 2026

Presiden FIFA Gianni Infantino. (Istimewa)

Berita Terkait

Presiden FIFA Gianni Infantino. (Istimewa)

batampos – Polemik pernyataan Presiden FIFA Gianni Infantino tentang suporter sepak bola Inggris akhirnya berujung pada permintaan maaf terbuka. Infantino mengakui ucapannya yang dilontarkan dalam sebuah forum internasional telah menyinggung perasaan pendukung sepak bola Britania Raya dan memicu kritik luas.

Sebelumnya, Infantino menyebut tidak adanya warga negara Inggris yang ditangkap selama Piala Dunia 2022 di Qatar sebagai sesuatu yang “istimewa”. Pernyataan itu dinilai bernada sindiran dan dianggap tidak sensitif, terutama karena citra suporter Inggris selama ini disebut telah banyak berubah.

Kritik keras datang dari Football Supporters Association (FSA). Organisasi tersebut menilai komentar Infantino tidak pantas, terlebih di tengah kekhawatiran publik mengenai mahalnya biaya menonton langsung Piala Dunia 2026.

FSA mendesak FIFA agar lebih fokus menjamin akses tiket yang terjangkau ketimbang melontarkan candaan yang berpotensi menyinggung penggemar. Menanggapi kritik tersebut, Infantino menyampaikan klarifikasi dalam wawancara dengan media Inggris.

Dikutip dari BBC.com, Infantino menegaskan pernyataannya dimaksudkan sebagai komentar ringan dan tidak pernah bertujuan merendahkan suporter Inggris atau melabeli mereka sebagai pembuat onar. “Saya tidak berniat menyinggung siapa pun,” ujarnya.

Infantino juga secara khusus menyampaikan permintaan maaf kepada suporter Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara yang merasa tersinggung. Pria berusia 55 tahun itu mengakui kalimat yang digunakannya kurang tepat. Ia menegaskan dirinya merupakan penggemar sepak bola Inggris dan menghormati budaya suporter yang menjadi bagian penting dalam perkembangan olahraga tersebut.

Selain isu suporter, Infantino turut menyinggung sejumlah keputusan FIFA yang belakangan menuai sorotan. Salah satunya adalah pemberian FIFA Peace Prize kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjelang undian Piala Dunia 2026.

Meski menuai kontroversi, Infantino menilai penghargaan tersebut diberikan berdasarkan penilaian objektif terhadap peran Trump dalam upaya perdamaian global. Ia juga kembali menegaskan pandangannya terkait sanksi terhadap Rusia yang masih berlaku sejak 2022.

Menurut Infantino, FIFA perlu mempertimbangkan kembali larangan tersebut karena sanksi dinilai tidak membawa dampak positif bagi dunia sepak bola. “Sepak bola seharusnya menjadi alat untuk menyatukan, bukan memutus hubungan,” katanya.

Infantino menekankan komitmen FIFA untuk menjaga sepak bola tetap inklusif dan terbuka bagi semua pihak, terlepas dari dinamika politik di luar lapangan. Dengan klarifikasi dan permintaan maaf ini, ia berharap polemik segera mereda dan perhatian publik kembali tertuju pada persiapan Piala Dunia 2026 serta peran FIFA dalam menjaga sepak bola sebagai olahraga global yang menyatukan. (*) 

Sumber BeritaJP GROUP

Update