
batampos – Kebersamaan Enzo Maresca dan Chelsea resmi berakhir pada Hari Tahun Baru. Pelatih asal Italia itu memutuskan mundur dari jabatannya setelah menilai posisinya sudah tidak lagi bisa dipertahankan, menyusul rentetan hasil buruk dan memburuknya hubungan internal di klub.
Keputusan tersebut datang di tengah performa Chelsea yang menurun drastis. The Blues hanya meraih satu kemenangan dari tujuh laga terakhir Premier League dan kini tertinggal hingga 15 poin dari pemuncak klasemen, Arsenal. Situasi ini membuat posisi Maresca berada di bawah tekanan besar, baik dari manajemen maupun suporter.
Belakangan terungkap, kritik terselubung yang sempat dilontarkan Maresca kepada publik ternyata diarahkan kepada tim medis Chelsea. Usai kemenangan 2-0 atas Everton pada pertengahan Desember, Maresca mengejutkan media dengan pernyataannya tentang 48 jam terburuk yang ia alami di klub, serta menyebut banyak pihak tidak memberikan dukungan. Kala itu, ia menolak menjelaskan lebih jauh maksud ucapannya.
Kini jelas bahwa pernyataan tersebut berkaitan dengan sejumlah perbedaan pandangan antara Maresca dan departemen medis klub, khususnya soal kondisi kebugaran dan ketersediaan pemain.
Salah satu isu utama menyangkut menit bermain kapten tim, Reece James, yang memiliki riwayat cedera hamstring. Maresca beberapa kali berselisih pendapat dengan tim medis terkait manajemen beban pemain.
Dari sudut pandang klub, perbedaan tersebut dianggap sebatas diskusi teknis dan rekomendasi medis, bukan bentuk intervensi terhadap keputusan taktik pelatih. Namun, gesekan yang berulang disebut memperkeruh suasana kerja di internal tim.
Situasi Maresca semakin rumit dengan munculnya laporan ketertarikan dari setidaknya dua klub Liga Champions. Meski Maresca dan agennya telah memberi tahu Chelsea soal minat tersebut, mereka juga menegaskan sang pelatih tidak berniat hengkang dan bahkan terbuka untuk membahas perpanjangan kontrak.
Namun, Chelsea menolak opsi itu. Maresca baru saja menandatangani kontrak jangka panjang hingga 2030 pada musim panas 2024, sehingga manajemen enggan memberinya kontrak baru hanya untuk menghentikan pembicaraan dengan klub lain.
Laga terakhir Maresca bersama Chelsea berakhir dengan hasil imbang 2-2 melawan Bournemouth di Stamford Bridge. Dalam pertandingan tersebut, suasana stadion memanas ketika suporter mencemooh dan meneriakkan “you don’t know what you’re doing” setelah Maresca menarik keluar Cole Palmer.
Meski Maresca memilih mundur, sumber internal menyebut Chelsea sebenarnya sudah mempertimbangkan pergantian pelatih. Faktor performa, pernyataan kontroversial di media, serta rumor kepindahan ke klub lain menjadi pertimbangan serius manajemen.
Seiring kepergian Maresca, nama Liam Rosenior mencuat sebagai kandidat terkuat pengganti. Pelatih Strasbourg itu dinilai cocok karena gaya bermainnya selaras dengan filosofi Chelsea. Selain itu, Strasbourg juga berada di bawah kepemilikan BlueCo, perusahaan induk Chelsea.
Chelsea disebut tidak terlalu mempertimbangkan nama-nama besar seperti Oliver Glasner, Cesc Fabregas, Andoni Iraola, maupun Roberto De Zerbi. Manajemen hanya memiliki daftar pendek kandidat kurang dari lima nama dan Rosenior berada di posisi teratas.
Meski demikian, Chelsea diperkirakan belum bisa menunjuk pelatih baru sebelum laga kontra Manchester City akhir pekan ini. Pelatih baru nanti akan berstatus permanen dan harus bekerja dalam struktur klub yang sama seperti yang dijalani Maresca.
Rosenior sendiri bukan sosok asing di sepak bola Inggris. Mantan pemain Bristol City, Fulham, Reading, Hull City, dan Brighton itu mengakhiri karier bermainnya pada 2018.
Ia hampir membawa Hull City ke play-off Championship pada 2024 sebelum menerima tawaran melatih Strasbourg, yang finis di posisi ketujuh Ligue 1 musim lalu.
Kendati dinilai minim pengalaman di level elite, Chelsea disebut tidak terlalu khawatir. Klub menilai risiko menunjuk Rosenior tidak jauh berbeda dengan saat mereka mempercayakan tim kepada Maresca.
“Ekspektasi terhadap Liam Rosenior cukup besar,” ujar jurnalis Sky Sports News, Kaveh Solhekol.
“Ini akan menjadi lompatan besar baginya, dari Strasbourg ke salah satu klub terbesar di dunia. Tapi di Chelsea, ada keyakinan bahwa risiko itu bisa dikelola,” lanjutnya.
Chelsea kini memasuki fase krusial, bukan hanya mencari pelatih baru, tetapi juga memastikan stabilitas di tengah musim yang penuh gejolak.(*)
