
batampos – Bukan kaleng-kaleng! Nilai pasaran Timnas Indonesia kini menembus Rp 511,89 miliar dan sukses menyalip Irak sekaligus mengejar Arab Saudi di jajaran elite sepak bola Asia. Angka fantastis ini menjadi bukti nyata meningkatnya kualitas individu pemain Garuda di bawah asuhan pelatih Patrick Kluivert.
Menjelang duel panas melawan Irak pada 12 Oktober 2025, sorotan publik tidak hanya tertuju pada strategi permainan, tetapi juga pada valuasi tinggi skuad Merah Putih.
Setelah menghadapi Arab Saudi pada 9 Oktober, kepercayaan diri tim semakin membumbung tinggi berkat komposisi pemain yang semakin solid dan kompetitif.
Media ternama asal Qatar, Al Jazeera, ikut menyoroti lonjakan luar biasa yang dialami Indonesia.
Dalam laporannya, mereka menilai perubahan komposisi pemain, terutama kehadiran para pemain keturunan yang berkarier di Eropa, membuat Timnas tampil jauh lebih berani dan modern dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Al Jazeera menulis, nilai pasar skuad Garuda kini mencapai 25,6 juta euro atau sekitar Rp 511,89 miliar.
Angka itu menempatkan Indonesia di atas Irak yang bernilai 22 juta euro, sekaligus menempel ketat Arab Saudi yang berada di kisaran Rp 531,88 miliar.
Kenaikan nilai ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan hasil dari progres konkret para pemain di level klub.
Beberapa bintang diaspora seperti Jay Idzes, Kevin Diks, hingga pemain muda yang meniti karier di Eropa menjadi motor peningkatan valuasi tim nasional.
Jay Idzes yang kini memperkuat Sassuolo di Serie A menjadi pemain termahal di skuad Indonesia dengan nilai 7,5 juta euro.
Di bawahnya ada Kevin Diks dari Borussia Monchengladbach dengan valuasi 5 juta euro, keduanya mencerminkan kualitas individu yang kini bisa bersaing di level tertinggi Eropa.
Beberapa pemain lainnya seperti Thom Haye, Ragnar Oratmangoen, dan Sandy Walsh juga mencatat nilai pasar tinggi berkat performa stabil bersama klub masing-masing.
Keterlibatan mereka membuat peta kekuatan Indonesia berubah total dibandingkan era sebelumnya yang lebih bergantung pada pemain lokal.
Secara keseluruhan, peningkatan ini menunjukkan bagaimana arah pembinaan Timnas Indonesia kini lebih terukur dan modern.
Patrick Kluivert membawa sentuhan Eropa dalam pendekatan taktik dan filosofi bermain yang lebih dinamis serta berbasis penguasaan bola.
Kehadiran pelatih asal Belanda itu terbukti memberikan dampak signifikan, terutama dalam hal kepercayaan diri pemain saat menghadapi lawan kuat seperti Irak atau Arab Saudi.
Para pemain kini tampil lebih tenang, disiplin, dan tidak lagi canggung menghadapi tekanan besar di laga internasional.
Dari sisi data Transfermarkt, Indonesia kini menempati posisi yang sangat membanggakan di Asia.
Dengan valuasi Rp 511,89 miliar, skuad Garuda berhasil melewati Irak yang berada di angka Rp 385,44 miliar dan hanya terpaut sedikit dari Arab Saudi yang mencapai Rp 531,88 miliar.
Kesenjangan nilai tersebut semakin memperkuat optimisme publik terhadap kebangkitan sepak bola nasional.
Setelah sekian lama menjadi tim kuda hitam, Indonesia kini mulai diakui sebagai kekuatan baru yang layak diperhitungkan di level Asia.
Meski begitu, laporan Al Jazeera juga menyoroti dari sisi kekuatan liga domestik, Indonesia masih tertinggal jauh dibandingkan tetangga-tetangganya.
Nilai pasar Liga 1 atau Super League Indonesia baru mencapai sekitar 78 juta euro, sedangkan Saudi Pro League sudah menembus 1,14 miliar euro.
Artinya, potensi pemain Indonesia sebenarnya masih bisa terus berkembang jika ditopang oleh kompetisi domestik yang lebih kompetitif dan profesional.
Kualitas liga menjadi pondasi penting agar regenerasi pemain terus berjalan dan tidak bergantung pada pemain diaspora semata.
Namun, keterlibatan 11 pemain yang berkarier di luar negeri kini menjadi modal besar bagi Timnas untuk bersaing di level tinggi.
Gaya permainan Indonesia terlihat lebih cepat, efisien, dan berimbang antara serangan serta pertahanan.
Perpaduan antara pemain lokal dan diaspora menciptakan harmoni baru dalam tubuh tim yang sebelumnya sulit dicapai.
Pola serangan kini lebih variatif, dan kualitas umpan serta pergerakan tanpa bola terlihat meningkat signifikan di bawah arahan Kluivert.
Dengan kekuatan baru ini, peluang Indonesia untuk mencuri poin melawan tim-tim besar seperti Irak atau Arab Saudi semakin terbuka.
Mental bertanding para pemain juga terlihat jauh lebih matang, menandakan mereka tak lagi gentar menghadapi laga-laga besar.
Kluivert sendiri disebut memiliki visi jangka panjang untuk membawa Indonesia lolos ke Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam sejarah.
Ia menekankan pentingnya konsistensi dan mental juara, dua hal yang selama ini menjadi kelemahan utama Timnas di level Asia.
Kebangkitan nilai pasar ini menjadi simbol perubahan nyata yang tengah terjadi di sepak bola nasional.
Dari sekadar peserta, Indonesia kini mulai bertransformasi menjadi penantang serius yang mampu mengimbangi negara-negara kuat di kawasan.
Masyarakat tentu berharap tren positif ini terus berlanjut dan tidak berhenti di tengah jalan. Dukungan federasi, klub, dan suporter menjadi faktor penting agar Timnas terus menjaga momentum menuju pencapaian yang lebih besar.
Jika progres ini konsisten, bukan hal mustahil Indonesia akan menjadi kekuatan baru Asia dalam beberapa tahun ke depan. Nilai Rp 511,89 miliar hanyalah awal dari perjalanan panjang menuju kejayaan sepak bola Garuda. (*)
