
batampos – Atlético de Madrid mengalami kekalahan pertama mereka di musim LaLiga 2025/26 setelah takluk 2-1 dari Espanyol di Stadion RCDE. Pasukan Diego Cholo Simeone sebenarnya sempat unggul lebih dahulu dan menguasai jalannya pertandingan.
Namun, dua gol balasan di babak kedua memastikan tuan rumah meraih kemenangan bersejarah di hadapan pendukungnya.
Dilansir dari laman Bein Sports pada Selasa (19/8), Pertandingan dimulai dengan dominasi penguasaan bola dari Atlético.
Tim tamu sempat unggul pada menit ke-37 lewat aksi Julián Álvarez. Penyerang Argentina itu mencetak gol indah melalui tendangan bebas yang menembus pagar betis dan tidak mampu dijangkau kiper Espanyol.
Gol tersebut menjadi bukti kualitas Álvarez yang kini menjalani musim penuh pertamanya bersama Rojiblancos.
Setelah unggul 0-1, Atlético semakin percaya diri dalam mengatur tempo permainan. Mereka menciptakan sejumlah peluang, tetapi penyelesaian akhir yang buruk membuat keunggulan tidak bertambah.
Situasi ini membuat Espanyol tetap memiliki harapan untuk bangkit di babak kedua. Meski terus ditekan, tuan rumah mampu bertahan disiplin dan menunggu kesempatan.
Kebangkitan Espanyol akhirnya datang pada menit ke-73. Miguel Rubio mencetak gol penyama kedudukan melalui tendangan bebas yang mengejutkan lini belakang Atlético.
Gol tersebut mengubah momentum pertandingan dan memberikan energi tambahan bagi tuan rumah untuk terus menekan. Atlético mulai goyah dalam menjaga konsentrasi pertahanan.
Petaka datang bagi tim tamu di menit ke-84. Umpan silang Espanyol berhasil disambut sundulan Pere Milla yang menggetarkan gawang Jan Oblak.
Gol tersebut memicu selebrasi besar di Stadion RCDE sekaligus memastikan kemenangan pertama Espanyol sejak kembali promosi ke LaLiga. Bagi para pendukung tuan rumah, momen ini menjadi salah satu hasil paling berkesan.
Hasil akhir 2-1 meninggalkan catatan berbeda bagi kedua tim. Espanyol memperoleh tiga poin krusial yang menunjukkan kesiapan mereka bersaing di kasta tertinggi.
Sebaliknya, Atlético menghadapi tanda tanya besar mengenai efektivitas serangan dan kerapuhan dalam bertahan dari bola mati. Simeone kini mendapat tekanan untuk segera memperbaiki kelemahan agar tidak mengawali musim dengan buruk. (*)
