
batampos – Kehadiran bintang Asia di Premier League kini bukan sekadar hiburan bagi penonton, melainkan bagian dari strategi besar klub-klub Inggris dalam memperkuat tim sekaligus memperluas jangkauan pasar internasional. Uniknya, Indonesia menyumbang nama-nama seperti Elkan Baggott, Marselino Ferdinan, hingga Ole Romeny, meski hanya di level kedua kompetisi.
Tiga pemain Timnas Indonesia tersebut masing-masing memperkuat Ipswich Town dan Oxford United. Bahkan sebelumnya ada nama Nathan Tjoe-A-On yang memperkuat Swansea City.
Di kasta tertinggi, dari Tottenham Hotspur dengan Son Heung-min hingga Brighton & Hove Albion yang menampilkan Kaoru Mitoma, gelombang pemain Asia semakin menunjukkan peran pentingnya dalam sepak bola Inggris modern.
Liverpool yang mendatangkan Wataru Endo untuk memperkuat lini tengah, serta Wolverhampton Wanderers yang menikmati kontribusi gol Hwang Hee-chan sejak 2021, menjadi bukti nyata bahwa pemain Asia kini bukan sekadar risiko, melainkan aset strategis.
Perubahan paradigma ini juga dipicu oleh kombinasi faktor, mulai dari upaya membangun merek di pasar luar negeri yang luas hingga peraturan perekrutan pemain yang mengalami transformasi signifikan. Keputusan klub-klub Inggris menargetkan talenta Asia kini tak hanya soal kemampuan teknis di lapangan, tapi juga soal potensi ekonomi dan branding global.
Ekspansi Merek ke Pasar Besar
Asia, terutama negara seperti Korea Selatan, Jepang, dan China, menjadi salah satu pasar sepak bola terbesar dan paling menguntungkan di dunia. Mendatangkan pemain Asia yang sudah memiliki basis penggemar di negaranya bisa langsung meningkatkan popularitas klub Inggris dan membuka peluang komersial yang signifikan.
Kehadiran Son Heung-min misalnya, dilaporkan membuat basis penggemar Tottenham di Asia melonjak, sekaligus meningkatkan penjualan jersey, kesepakatan sponsor regional, dan pendapatan dari hak siar. Menurut laporan media Inggris, Sport Mole, kedatangan Son bahkan menjadikan Tottenham sebagai salah satu klub yang paling dikenal di Asia, status yang diperkirakan bertahan meski kapten timnas Korea Selatan itu kini akan meninggalkan klub.
“Kehadiran Son Heung-min di Spurs menjadikan The Lily Whites sebagai salah satu klub yang paling dikenal di Asia,” tulis media tersebut.
Selain keuntungan finansial, visibilitas pemain Asia juga menciptakan hubungan emosional dengan penggemar. Klub-klub yang berhasil menjadi nama rumah tangga di Asia tidak hanya mendapatkan pengikut baru, tetapi juga membangun koneksi budaya yang kuat. Dalam lanskap media global yang kompetitif, relevansi di pasar sepak bola Asia bisa menjadi faktor penting untuk pertumbuhan jangka panjang baik dari sisi prestise maupun finansial.
Kualitas dan Nilai di Pasar Transfer
Meningkatnya kehadiran pemain Asia di liga-liga top Eropa menimbulkan pertanyaan apakah minat klub-klub Inggris semata-mata bersifat komersial. Tiago Bontempo, jurnalis spesialis sepak bola Jepang, menilai bahwa alasan klub Inggris menargetkan pasar Asia tidak hanya soal pemasaran, tetapi juga strategi perekrutan yang cerdas.
“Lebih dari mencari karakteristik tertentu, klub Inggris menyadari bahwa ini adalah pasar yang baik dan terjangkau – investasi berisiko rendah dengan peluang keberhasilan tinggi. Lihat saja pemain seperti Ao Tanaka di Leeds United atau Tatsuhiro Sakamoto di Coventry City, yang harganya relatif murah namun tampil lebih baik dibandingkan beberapa transfer mahal,” kata Bontempo, yang dikutip dari media yang sama.
Pendekatan ini tidak eksklusif di Inggris. Klub-klub di Jerman, Belgia, Portugal, dan Belanda juga telah lama menambang talenta Asia. Bahkan Championship, kasta kedua Liga Inggris, kini menjadi ajang pembuktian bagi pemain Asia sebelum naik ke Premier League.
Jepang, khususnya, terus memproduksi pemain berkualitas tinggi dan berjumlah banyak. Bagi beberapa pemain, langsung ke Premier League mungkin terlalu besar, sehingga Championship menjadi tahap adaptasi yang kompetitif namun lebih mudah diakses. Bontempo menyinggung Kota Takai yang baru saja bergabung dengan Tottenham sebagai contoh pemain yang bisa memanfaatkan jalur ini.
Jumlah pemain Asia di dua kasta teratas Inggris untuk musim 2025-26 mencatat: Premier League – 7 pemain (lima Jepang, dua Korea Selatan), Championship – 12 pemain (sembilan Jepang, tiga Korea Selatan). Keberadaan mereka menunjukkan bahwa investasi di pemain Asia kini bukan sekadar peluang komersial, tetapi juga langkah strategis untuk memperkuat skuad dengan biaya efisien.
Brexit dan Perubahan Aturan Perekrutan
Brexit telah mengubah pasar transfer Inggris secara fundamental. Sebelum Inggris meninggalkan Uni Eropa, klub-klub dapat merekrut pemain dari negara UE tanpa kendala izin kerja, sehingga lebih mudah dan murah. Kini, semua pemain asing harus memenuhi syarat izin kerja berdasarkan sistem poin yang dibuat FA, Premier League, dan EFL.
Pemain yang tidak mencapai poin minimum tidak bisa direkrut. Klub juga dilarang menandatangani pemain asing di bawah 18 tahun, dan maksimal bisa mendaftarkan tiga pemain luar negeri U-21 per jendela transfer serta enam per musim.
Peraturan ini membatasi aliran bakat muda Eropa tanpa pengalaman, sehingga klub-klub Inggris mulai melirik pemain dari Asia dan Amerika Selatan, karena sebelumnya mereka sudah terbiasa dengan aturan izin kerja serupa dan lebih sedikit terdampak oleh Brexit.
Akibatnya, strategi perekrutan kini semakin global. Klub-klub Inggris tidak hanya menilai pemain dari sisi teknis, tetapi juga mempertimbangkan potensi branding dan ekonomi jangka panjang. Kehadiran pemain Asia menjadi kombinasi antara kualitas di lapangan dan peluang komersial yang menjanjikan.
Dampak Jangka Panjang
Dengan meningkatnya jumlah pemain Asia di liga Inggris, para penggemar dan analis sepak bola mulai melihat tren ini sebagai perubahan signifikan dalam strategi transfer. Bukan hanya soal mencari pemain berbakat, tetapi juga menanam investasi di pasar yang luas dan berkembang. Menurut laporan media, keberhasilan Son, Mitoma, Endo, dan Hwang menunjukkan bahwa pemain Asia kini mampu memengaruhi hasil pertandingan sekaligus memberikan efek ekonomi yang nyata bagi klub.
Selain itu, kehadiran mereka membuka jalan bagi generasi baru pemain Asia untuk menembus liga-liga top Eropa, menciptakan jalur karier yang lebih jelas dari liga domestik hingga Premier League. Model ini dianggap lebih berkelanjutan dibandingkan sekadar mendatangkan bintang mahal dari Eropa yang mungkin membutuhkan adaptasi lebih lama.
Tren peningkatan talenta Asia di Premier League mencerminkan strategi jangka panjang klub-klub Inggris yang menggabungkan kepentingan sportif dan komersial. Dari Son Heung-min hingga Tatsuhiro Sakamoto, pemain Asia kini bukan sekadar percobaan transfer, tetapi bagian integral dari rencana klub dalam memperluas basis penggemar, meningkatkan pendapatan, dan memperkuat kualitas skuad.
Kombinasi faktor ekonomi, kualitas pemain, dan perubahan aturan pasca-Brexit membuat pasar Asia semakin menarik. Ke depannya, Premier League kemungkinan akan terus menjadi magnet bagi pemain Asia berbakat, sementara klub-klub Inggris akan terus memanfaatkan strategi ini untuk menjaga relevansi dan pertumbuhan di panggung global. (*)
