
batampos – Francesco -Pecco- Bagnaia mengakui bahwa dirinya harus bersikap realistis terkait peluang bersaing melawan Marc Marquez dalam perburuan gelar MotoGP 2025.
Dilansir dari laman Crash pada Rabu (23/7), Juara dunia dua kali itu menyebut bahwa kondisi teknis motornya serta performa dominan Marquez membuatnya sulit membayangkan persaingan langsung.
Pecco menyampaikan pernyataan tersebut usai seri Grand Prix Ceko yang memperparah jarak poin di klasemen.
Pecco sempat menjadi harapan Ducati untuk menyaingi rekan setimnya, Marc Marquez, yang kini memperkuat tim pabrikan Ducati.
Namun, performa Bagnaia tampak menurun signifikan dibanding musim-musim sebelumnya. Ia kesulitan menaklukkan bagian depan motor GP25 dan tak mampu mengerem seagresif biasanya, yang merupakan kekuatannya selama ini.
Setelah melewati 12 seri, Bagnaia baru mencatatkan satu kemenangan dan satu posisi pole, sementara Marquez telah meraih delapan kemenangan dan 11 kemenangan sprint.
Kesenjangan poin antara keduanya kini mencapai 168 angka, memperjelas dominasi sang juara dunia delapan kali asal Spanyol tersebut. Di GP Ceko, Bagnaia memulai dari pole namun hanya finis keempat karena masalah kelistrikan.
Dalam unggahan di media sosial Instagram, Bagnaia merefleksikan akhir pekan balapnya di Ceko dan menjelaskan bahwa dirinya kini lebih fokus pada peningkatan performa ketimbang ambisi juara.
Pecco menyoroti bagaimana kontrol traksi yang dikurangi sedikit meningkatkan kenyamanan berkendara, tetapi tetap mengalami kendala besar pada pengereman bagian depan.
“Kita harus realistis, Saat ini sulit membayangkan bertarung dengan Marc dalam kondisi seperti ini. Kami perlu mengatur ulang fokus dan menjadikan Alex Marquez sebagai tolok ukur yang lebih masuk akal.” ungkap Pecco Bagnaia seperti dikutip pada Crash.
Dominasi Marc Marquez pun kian nyata, dengan rata-rata 31,75 poin per ronde dari maksimal 37 poin yang tersedia.
Sementara itu, Pecco hanya mampu mencetak rata-rata 17,75 poin per seri. Dengan performa ini, kans Bagnaia mempertahankan gelarnya nyaris tertutup, sementara fokus utama tampaknya kini beralih ke pengembangan motor dan persaingan internal tim Ducati. (*)
