
batampos – Turnamen sepak bola usia dini bertaraf internasional bertajuk Kepri Championship resmi digelar kembali tahun ini di Kota Batam. Memasuki edisi ke-8 sejak pertama kali dihelat pada 2018, ajang ini menjadi magnet bagi ratusan pemain muda dari dalam dan luar negeri.
Direktur Turnamen Kepri Championship, Yora Amir, menyebut turnamen ini semakin mendapat tempat di hati masyarakat sepak bola Asia Tenggara, khususnya untuk kelompok usia muda. Tahun ini, total 100 tim ambil bagian dalam kompetisi yang digelar mulai Jumat (16/5) hingga Minggu (18/5).
“Pesertanya datang dari tiga negara Indonesia, Singapura, dan Malaysia. Dari Singapura ada 19 tim, Malaysia 24 tim, dan sisanya dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk Batam yang mengirim 42 tim,” kata Yora usai technical meeting di Batam, Kamis (15/5) malam.
Malaysia mengirim tim dari hampir seluruh wilayah, mulai dari Kuala Lumpur, Kajang, Selangor, Pahang, hingga Melaka. Sedangkan dari Indonesia, tim-tim datang dari Medan, Dumai, dan sejumlah kota lain di luar Kepri.
“Karena banyaknya peserta dari luar negeri, kami menyebutnya turnamen International Youth Football. Sekitar 40 persen tim berasal dari luar Indonesia, ini pencapaian yang belum pernah terjadi di edisi-edisi sebelumnya,” ujarnya.
Kompetisi ini diikuti anak-anak usia 9 tahun hingga 15 tahun, dan mempertandingkan sejumlah kelompok usia yang disesuaikan. Babak penyisihan digelar di dua lokasi, yaitu Stadion Tumenggung Abdul Jamal dan Stadion Citra Mas, Kabil. Untuk babak knock-out hingga semifinal, pertandingan dipusatkan di Stadion Tumenggung Abdul Jamal pada Minggu (18/5).
Yora mengatakan, selain menjadi ajang kompetisi, turnamen ini juga menjadi sarana pembinaan karakter anak sejak usia dini. “Kami ingin anak-anak bisa berkembang secara teknik dan mental. Mereka belajar membangun kerja tim, menghormati lawan, dan memahami pentingnya sportivitas baik dalam kemenangan maupun kekalahan,” katanya.
Ia menambahkan, sebetulnya ada tim dari Vietnam dan Thailand yang sudah mendaftar dan masuk ke dalam daftar peserta. Namun, karena tidak tersedia penerbangan langsung ke Batam, para orang tua peserta akhirnya membatalkan keberangkatan.
“Mereka sebenarnya sangat antusias. Hanya saja jalur perjalanan yang harus transit di Singapura dan melanjutkan dengan kapal ke Batam membuat mereka berpikir ulang,” jelas Yora.
Turnamen ini diselenggarakan oleh YR Event Organizer, yang merupakan singkatan dari Yora dan Rekan. Sejak digelar pertama kali, Kepri Championship terus konsisten menjadi wadah bagi pengembangan sepak bola usia muda, khususnya di wilayah perbatasan Indonesia.
“Semangat kami sejak awal adalah membangun sepak bola dari usia dini. Saat ini euforia sepak bola di Indonesia sangat besar. Lewat Kepri Championship, kami ingin menjadi bagian dari gerakan itu dan sekaligus memperkenalkan Batam sebagai tuan rumah even internasional,” tegas Yora.
Malam sebelum pertandingan dimulai, para pelatih dan perwakilan tim juga mengikuti technical meeting yang membahas regulasi pertandingan serta proses pembagian grup melalui sistem cabut undi.
Dengan jumlah peserta yang terus meningkat dan cakupan internasional yang semakin luas, Kepri Championship diyakini akan menjadi salah satu turnamen sepak bola usia dini paling prestisius di Asia Tenggara. (*)
Reporter: Rengga Yuliandra
