Rabu, 14 Januari 2026

Kontroversi 12 Pemain PSM Makassar saat Laga Lawan Barito Putera

Berita Terkait

PSM Makassar jelaskan bagaimana kronologi peristiwa kontroversial saat hadapi Barito Putera. (Media PSM Makassar)

Barito Putera sudah mengingatkan wasit bahwa PSM Makassar bermain dengan 12 orang di ujung injury time babak kedua, tapi tak digubris. Berdasar Kode Disiplin PSSI Pasal 56 tentang Pemain Tidak Sah, PSM terancam denda minimal Rp 90 juta dan dinyatakan kalah dengan pemotongan poin.

JPG, Jakarta

SATU per satu noda memalukan mencoreng Liga 1. Kasus hilangnya nama Riswan Lauhim, Kasim Botan, dan Alfan Suaib dalam daftar susunan pemain (DSP) Persebaya Surabaya saat dijamu Semen Padang di Stadion Haji Agus Salim, Kota Padang, Sumatera Barat (15/12), belum menemukan titik terang.

Kini terjadi kontroversi lain dalam duel PSM Makassar versus Barito Putera. Dalam pertandingan di Stadion Batakan, Balikpapan, Kalimantan Timur, pada Minggu (22/12) itu, PSM diketahui bermain dengan 12 pemain. Insiden itu terjadi pada masa injury time babak kedua.

Pada menit ke-90+7, PSM memasukkan tiga pemain sekaligus: Daffa Salman, Muhammad Arham Darmawan, dan Fahrul Aditia. Mereka menggantikan Akbar Tanjung, Latyr Fall, dan Sahrul Lasinari.

Di antara tiga nama itu, Akbar diganti karena cedera. Dia tidak bisa keluar lapangan sendiri. Harus ditandu. Sedangkan Latyr keluar lewat sisi lapangan sebelah lain. Bukan keluar di sisi tengah lapangan.

Nah, dalam situasi itu, wasit Pipin Indra Pratama mempersilakan Daffa, Arham, dan Fahrul masuk. Sedangkan Sahrul yang seharusnya keluar tetap berada di lapangan. Akhirnya, PSM bermain dengan 12 pemain sejak menit ke-98.

Dalam situasi itu, Barito Putera sempat melakukan protes. Namun, wasit tidak menggubris. ”Saat protes, wasit meminta kami duduk. Padahal, kami mengingatkan wasit bahwa mereka bermain dengan 12 orang,” ujar Rahmad Darmawan, pelatih Barito Putera, saat dihubungi Jawa Pos kemarin (23/12).

Pelatih yang akrab disapa Rahmad Darmawan itu menambahkan, dalam situasi tersebut, Barito Putera ingin wasit sejenak menghentikan pertandingan. Lalu, meminta Sahrul keluar, baru pertandingan kembali dilanjutkan.

”Tapi, mereka menganggap itu sudah sesuai regulasi, menganggap tetap 11 orang dan tidak menghitung lagi. Bahkan, sampai sempat terjadi free kick dan corner kick dalam pertandingan, PSM tetap bertanding dengan 12 orang,” kata mantan pelatih Persija Jakarta itu.

Selesai pertandingan, Barito Putera ramai-ramai mendatangi wasit. Rahmad Darmawan menyatakan bahwa sikap itu bukan karena mencari keributan.

”Tapi, memberi tahu wasit bahwa PSM bermain dengan 12 orang. Kami minta ada extra time tambahan. Tapi, peluit panjang sudah ditiup,” ungkap pelatih asal Lampung tersebut.

Selesai pertandingan, Rahmad Darmawan mengaku dihampiri Sahrul, pemain yang seharusnya keluar dari lapangan. Mantan pemain Persikabo 1973 itu mengaku sebenarnya dirinya sudah memberi tahu wasit.

”Tapi, berdasar penuturan dia, wasit bilang bahwa pertandingan dilanjutkan. Menurut saya, kalau tahu diganti, seharusnya dia keluar. Kenapa main terus?” kata mantan pelatih Madura United tersebut.

Menurut Rahmad Darmawan, ada dua pihak yang teledor dalam persoalan ini. Yaitu, perangkat pertandingan dan PSM. ”Karena ketika tim memasukkan pemain, wasit harus mengecek. Apakah yang diganti sudah keluar belum,” terangnya.

Dari kejadian ini, Barito Putera akhirnya kalah 2-3. Namun, PSM di ambang ancaman sanksi Komite Disiplin (Komdis) PSSI berdasar Kode Disiplin PSSI Pasal 56 tentang Pemain Tidak Sah. Sanksinya berat: denda minimal Rp 90 juta. Juga, dinyatakan kalah dengan pemotongan poin.

Dalih PSM

Media Officer PSM Sulaiman Abdul Karim menyebut yang melakukan keteledoran adalah perangkat pertandingan, bukan PSM.

”PSM melakukan pergantian tiga pemain secara bersamaan. Prosedurnya adalah menyerahkan form pergantian pemain kepada wasit cadangan,” katanya.

Wasit cadangan, lanjut dia, kemudian mengecek apakah tiga pemain tersebut ada di dalam DSP atau tidak. ”Setelah itu dilakukan, prosedur selanjutnya sudah menjadi ranahnya perangkat pertandingan alias wasit,” ujar Sulaiman kemarin.

Dia menambahkan, wasit utama dan wasit cadangan mengatur keluar masuk pemain pengganti dan yang diganti.

”Nah, dalam insiden PSM melawan Barito Putera, pemain pengganti PSM masuk ke lapangan berdasar arahan dari wasit cadangan. Begitu juga dengan pemain yang digantikan, tentu saja mengikuti arahan wasit utama. Wasit menetapkan play on dan pemain tidak diminta oleh wasit utama untuk meninggalkan lapangan,” tegas Sulaiman. (*)

Sumber BeritaJPGroup

Update